| Bekerja dengan Kami | ![]() |
![]() |
Deklarasi Solol Raja Ampat, Misi Perlindungan Masyarakat Adat dan Hutan di Tanah Papua
Sebanyak 57 delegasi pemuda adat dari Jayapura, Pegunungan Arfak, Sorong, Sorong Selatan hingga Raja Ampat mendeklarasikan penyelamatan hutan serta perlindungan masyarakat adat di Tanah Papua. Terdapat sembilan poin dalam deklarasi yang dibacakan di hutan Wulwey, Kampung Solol, Distrik Salawati Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Jumat (31/10/2025). Pembacaan dipimpin Yohan Geissler Dimara, pemuda adat Kampung Solol diikuti para peserta secara bersama-sama. Sebanyak 57 delegasi pemuda adat dari Jayapura, Pegunungan Arfak, Sorong, Sorong Selatan hingga Raja Ampat mendeklarasikan penyelamatan hutan serta perlindungan masyarakat adat di Tanah Papua. Terdapat sembilan poin dalam deklarasi yang dibacakan di hutan Wulwey, Kampung Solol, Distrik Salawati Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Jumat (31/10/2025). Pembacaan dipimpin Yohan Geissler Dimara, pemuda adat Kampung Solol diikuti para peserta secara bersama-sama.
Direktur Bentara Papua Yunes Magdalena Bonay mengatakan, deklarasi merupakan rangkaian Youth Forest Camp 2025 di Kampung Solol yang digelar selama empat hari. "Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara baik, bertukar pengetahuan menjaga dan mengelola hutan," ujarnya kepada TribunSorong.com. Menurut Yunes, momen ini adalah kesempatan bersejarah, sebab bisa jadi wadah pemuda saling mengingatkan terhadap ancaman eksploitasi hutan Papua. Ia berharap, poin-poin hasil deklarasi ini bisa dikawal, sekaligus pendampingan terhadap masyarakat secara berkelanjutan. Berikut 9 Poin Deklarasi Solol Raja Ampat:
Penulis: Wartawan Tribun Sorong Direktur Bentara Papua Yunes Magdalena Bonay mengatakan, deklarasi merupakan rangkaian Youth Forest Camp 2025 di Kampung Solol yang digelar selama empat hari. "Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara baik, bertukar pengetahuan menjaga dan mengelola hutan," ujarnya kepada TribunSorong.com. Menurut Yunes, momen ini adalah kesempatan bersejarah, sebab bisa jadi wadah pemuda saling mengingatkan terhadap ancaman eksploitasi hutan Papua. Ia berharap, poin-poin hasil deklarasi ini bisa dikawal, sekaligus pendampingan terhadap masyarakat secara berkelanjutan. Berikut 9 Poin Deklarasi Solol Raja Ampat:
Penulis: Wartawan Tribun Sorong |
![]() |
Kabar Baik: Masyarakat Adat Knasaimos Terima SK Pengakuan Wilayah Adat dari Bupati Sorong Selatan
Teminabuan, 6 Juni 2024. Kabar baik datang untuk masyarakat adat Knasaimos. Sehari setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia–yang jatuh pada tanggal 5 Juni, masyarakat Knasaimos menerima surat keputusan pengakuan wilayah adat dari Bupati Sorong Selatan. Warkat yang telah dinantikan ini mengakui wilayah adat Knasaimos seluas 97.441 hektare, yang membentang di dua distrik yakni Distrik Saifi dan Seremuk. Sebagai perbandingan, wilayah adat ini lebih besar dari Provinsi DKI Jakarta yang luasnya 66.150 hektar. Acara penyerahan tersebut berlangsung di kantor Sekretariat Panitia Masyarakat Hukum Adat Sorong Selatan di Teminabuan, Sorong Selatan, Papua Barat Daya pada pagi tadi. Mewakili Bupati Sorong Selatan Samsudin Anggiluli, Sekretaris Daerah Sorong Selatan Dance Nauw memimpin prosesi ini. Sehubungan dengan perwakilan masyarakat Knasaimos menghadiri acara penyerahan SK dengan mengenakan busana adat. “Tanah ini sejak dahulu adalah milik kami, hak kesulungan kami, diwariskan oleh para leluhur, dan akan menjadi masa depan anak-cucu kami. Namun pengakuan wilayah adat penting untuk memberikan kepastian hukum bagi kami masyarakat adat. Kami berharap, kepastian hukum ini dapat memperkuat benteng pertahanan kami untuk menjaga hutan dan wilayah adat dari ancaman investasi yang merugikan masyarakat adat dan Tanah Papua,” kata Fredrik Sagisolo, Ketua Dewan Persekutuan Masyarakat Adat Knasaimos. Sekretaris Daerah Sorong Selatan Dance Nauw dalam berbagainya menyampaikan SK ini bukan sekedar dokumen administrasi, tapi bentuk penghormatan dan pengakuan atas eksistensi dan peran penting masyarakat adat menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Pengakuan wilayah adat ini juga disebutnya sebagai tonggak sejarah dan bukti kepedulian terhadap masyarakat. “Pengakuan ini menunjukkan kepada masyarakat setempat dan pemerintah pusat, bahwa komitmen untuk melindungi lingkungan serta memastikan martabat dan kesejahteraan masyarakat adat berjalan beriringan. Kami berharap pengakuan ini dapat memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan dalam mengelola wilayah adat demi kesejahteraan bersama,” kata Sekda Dance Nauw. Selain untuk masyarakat Knasaimos, Bupati Sorong Selatan juga meneken SK pengakuan serupa bagi masyarakat adat di Distrik Konda. Dalam dua dekade terakhir, masyarakat Knasaimos telah berjuang untuk melindungi tanah dan hutan adat mereka dari eksploitasi pihak luar. Ketika pembalak kayu merbau dan perusahaan sawit menyasar wilayah mereka, orang Knasaimos gigih menolak. Beberapa bentuk perjuangan Knasaimos antara lain melalui pemetaan wilayah adat, mengolah sagu untuk dijual sebagai wujud kemandirian dari sisi pangan dan ekonomi, hingga mendaftarkan pengakuan wilayah adat ke Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan–yang keputusannya mereka dapatkan hari ini.
“Masyarakat adat, khususnya perempuan adat, hidup dalam kemandirian dengan alam. Hutan adat merupakan identitas, kebun, dan apotek bagi perempuan Knasaimos. Para mama mengambil sayur, obat-obatan alami, hingga sagu yang olah mereka untuk makan keluarga serta dijual–hasilnya untuk mengirim anak-anak ke bangku sekolah. Dengan pengakuan ini, kami berharap masyarakat dapat mengelola tanah adat, memperoleh manfaat, dan hidup dengan kearifan lokal yang dimiliki tanpa harus menjual tanah dan kehilangan hutan,” ucap Duketini Maria Youwe dari Bentara Papua. Pengakuan wilayah adat sebenarnya bukan kabar baik pertama untuk masyarakat Knasaimos. Pada tahun 2016, masyarakat adat Knasaimos mendapatkan surat keputusan penetapan hutan desa /kampung dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, disusul hak pengelolaan hutan desa/kampung tiga tahun kemudian. Di sisi lain, cerita Knasaimos ini menunjukkan bahwa masyarakat adat masih harus berjuang keras agar hak-hak mereka diakui dan dihormati. Masyarakat adat khususnya di Tanah Papua terus mengalami ancaman perampasan hutan adat, seperti yang kini dialami masyarakat adat Awyu di Boven Digoel dan memicu kampanye #AllEyesOnPapua di media sosial. Padahal, konstitusi telah menjamin keberadaan dan hak-hak masyarakat adat. “Masyarakat Adat Knasaimos saat ini menikmati hasil perjuangan panjang mereka, tetapi masih banyak masyarakat adat lainnya di Tanah Papua dan di seluruh Tanah Air, yang telah kehilangan tanah, hutan, dan keanekaragaman hayati mereka secara permanen karena pemerintah menyerahkannya untuk kepentingan perusahaan,” kata Amos Sumbung, Juru Kampanye Hutan Papua Greenpeace Indonesia. “Pengakuan masyarakat adat seharusnya hanya dilakukan oleh pemerintah daerah seperti di Sorong Selatan ini, tapi juga oleh pemerintah pusat. Presiden dan DPR harus segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat yang sudah lebih dari 10 tahun belum dapat diselesaikan. Kami tidak akan berhenti berjuang sampai ada pengakuan dan pelindungan penuh untuk masyarakat adat di Tanah Papua,” tutupnya.
Catatan Editor
Foto dan video kegiatan penyerahan SK pengakuan wilayah adat Knasaimos dapat dilihat di tautan berikut:
https://media.greenpeace.org/collection/27MZIFJBTW40L
Kontak Media
Amos Sumbung, Greenpeace Indonesia, +62 811-486-327 Infak, Bentara Papua, +62-822-4906-3836 Budiarti Putri, Greenpeace Indonesia, +62 811-1463-105 |
![]() |
Mengabadikan Jejak “Vogelkop Bowerbird” di Udohotma
Mengabadikan Jejak “Vogelkop Bowerbird” di Udohotma
Salah satu daya tarik ekowisata di kawasan Pegunungan Arfak adalah keberadaan Vogelkop Bowerbird (Amblyornis inornate) atau yang lebih dikenal dengan Burung Pintar. Dalam bahasa Sougb biasa dikenal Bendirhia.
Burung pintar dijuluki juga sebagai “Arsitek Terbang” (Flying Architect/Flying Engineer). Karena keterampilan membangun sarang sembari mengumpulkan benda-benda berwarna yang dikelompokkan dengan rapi, seperti buah-buahan termasuk sampah plastik. Sarang yang indah ini demi menarik betina agar singgah dan berkenan menjadi kekasihnya. Selain itu, burung ini diketahui pandai meniru suara makhluk hidup lain yang didengarnya di dalam hutan.
Situs Indonesia Expat menceritakan jika sarang yang dibangun biasanya setinggi dan lebar satu meter. Sarangnya terdiri dari tiga bagian: kubah yang cukup lebar untuk dilewati si burung; area utama dengan daun besar diletakkan terbalik atau ubin dengan batu; dan tiang yang menggunakan pohon muda sebagai menara pusat, dengan bermacam-macam vegetasi yang dikemas di sekitar pangkalan. Seekor burung pintar jantan mungkin perlu seminggu hingga dua bulan untuk mengatur sarangnya, tergantung pada cuaca.
Di penghujung tahun 2022, Bentara Papua memulai merekam jejak keberadaan burung ini di sekitar pinggiran danau Anggi Giji.
Rencana mengabadikan aktivitas burung pintar sebenarnya sudah didiskusikan para pengorganisir Bentara Papua sejak tahun 2019. Kemudian survey pertama dilakukan tahun 2020 akhir, persisnya di bulan November. Saat itu survey dilakukan baru sebatas pengamatan fisik di bukit Kobrey, Udohotma.
Survey pertama ini belum menemukan apa-apa. Lebih banyak hanya mendengar cerita dari masyarakat kampung. Maikel Saiba, seorang petani muda di Umangka, misalnya, bercerita jika burung ini memang sering melintas di wilayah Bamaha, Testega, hingga ke Umangka. Tapi belum ada dokumentasi yang merekam aktivitas burung yang memiliki panjang badan sekitar 25-31 cm ini.
Memasuki tahun 2021, Bentara Papua membawa peralatan dokumentasi berupa kamera. Saat ini, baru ditemukan dua buah sarang di bukit Kobrey dan di bukit Udohotma.
Kemudian, di tahun 2022, pada bulan November, mulai memasang dua buah camera trap di bukit Udohotma dan bukit Kobrey. Masing-masing satu buah. Pada fase ketiga inilah, baru terekam aktivitas burung pintar di sekitar sarang yang sudah dibangun.
Video tersebut memperlihatkan seorang pejantan burung pintar mengumpulkan buah-buahan, bunga, daun, dan sampah plastik berupa bungkusan biskuit, botol air mineral dan seng penutup baterai dan arang.
Aktivitas pejantan ini terekam sejak pukul 06.00 WIT hingga menjelang tengah hari. Kemudian terekam lagi ketika ketika sore, sekitar pukul 15.30 hingga 18.00 WIT.
Penemuan sarang dan rekaman aktivitas burung pintar ini selaras dengan rencana Bentara Papua mengembangkan destinasi ekowisata pengamatan burung (birdwatching).
Sebagaimana banyak diketahui, di kawasan Pegunungan Arfak, wisata minat khusus ini adalah salah satu yang menjadi daya tariknya, seperti yang sudah dijalankan oleh Bapak Hans Mandacan di Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari.
Dalam laporan Ekspedisi Tanah Papua 2021, misalnya, Kompas menceritakan jika Hans Mandacan berhasil mengelola wisata pengamatan burung dengan melibatkan warga di Kampung Kwau. Ada warga yang bekerja sebagai tukang masak, porter dan pemandu wisata (guide). Hans Mandacan juga bercerita bahwa ekowisata ini berhasil menghasilkan Rp 350 juta di tahun 2019. Kisah Hans Mandacan adalah pembelajaran sukses yang bisa direplikasi. Karena itu, cerita penemuan burung pintar di Udohotma dapat memberikan kesempatan untuk mendorong kesadaran konservasi kawasan hutan dengan pelibatan masyarakat yang lebih luas. Hal mana dapat dimulai dengan menghidupkan kesadaran bersama dalam menjaga kondisi hutan sembari mengurangi produksi sampah plastik. Kesadaran bersama yang tentu saja terintegrasi dengan praktik-praktik pertanian berkelanjutan yang sudah dikembangan sejauh ini.
Dalam bahasa lain, penemuan burung pintar adalah momentum untuk memperkuat usaha-usaha kolaboratif dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang tersisa dan memelihara praktik pengelolaan sumber penghidupan secara berkelanjutan. Selain masyarakat adat, Bentara Papua, pemerintah daerah juga perlu didorong mengambil peran yang lebih afirmatif lagi.
Link Indonesia Expat: https://indonesiaexpat.id/featured/papuan-flying-architect-the-vogelkop-bowerbird-in-pegunungan-arfak/ Cerita yang lebih utuh tentang Hans Mandacan bisa dibaca dalam tautan : https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-tanah-papua-2021/baca/hans-mandacan-menjaga-burung-surga-papua/#:~:text=Hans%20Mandacan%20banting%20setir%20dari%20seorang%20pemburu%20menjadi,dalamnya%2C%20tetapi%20juga%20meningkatkan%20perekonomian%20masyarakat%20di%20kampungnya. |
![]() |
Cerita Pertanian Organik dan Pengorganisasian Masyarakat
Tahun 2018, Yoab Sagisolo baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Teminabuan, Sorong Selatan. Yoab tidak melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Ia lebih sering membantu orang tuanya, seperti membuat atap dari daun sagu yang dijual atau mengurusi kebun. Sehari-hari, Yoab dikenal memiliki keterampilan membuat gelang dari akar pohon.
Yoab bercerita jika pertama kali bersentuhan dengan kegiatan Bentara Papua melalui kegiatan pemetaan. Tak lama berselang, Yoab dan dua temannya mewakili pemuda dari masyarakat adat Knasaimos diutus ke Sorong atas rekomendasi Bentara Papua. Mereka akan belajar di Sekolah Transformasi Sosial (STS). STS adalah sekolah alternatif yang dilakukan oleh Yayasan EcoNusa bekerjasama dengan Indonesian Society for Social Transformation (Insist).
Selama di STS, Yoab banyak belajar mengenai pertanian organik dan pemetaan kampung. Sesudah sekolah, setiap alumnus STS memiliki tugas untuk melakukan praktek kerja lapangan selama tiga bulan di kampungnya masing-masing.
Yoab juga melakukan hal yang sama. Sesampai di kampungnya, didampingi teman-teman Bentara Papua ia mencoba menerapakan metode pertanian organik yang baru saja dipelajari.
Sekarang ini, kebun yang dikerjakannya berada di kelerengan serta lahan datar yang menggunakan sistem bedengan. Panjangnya sekitar 100 meter, lebarnya 150 meter, kira-kira seluas lapangan bola. Sudah ada 50 bedeng yang disiapkan.
Jenis-jenis yang sedang ditanam Yoab berupa sawi dan kacang panjang. kangkung, tomat, rica (cabai) dan terong serta tanaman-tanaman lokal yang ada disekitar kampung. Ia juga menanam tanaman pangan jangka menengah.
Mengapa Yoab memilih menanam jenis-jenis sayuran?
“Saya pernah bertanya ke mas-mas yang berjualan sayur ke sini. Ternyata sayurannya juga dibawa dari tempat lain. Ketika masuk ke kampung, harganya sudah lebih mahal,” terangnya.
Yoab gusar. Mestinya masyarakat di kampung-kampung yang merupakan wilayah adat Knasaimos bisa menanam sendiri jenis-jenis sayuran yang dibeli itu. Kondisi bergantung terhadap pasokan dari luar inilah yang membuatnya memulai berkebun sayuran.
Disiplin dan tekun belajar dari kebun untuk menghasilkan yang terbaik.
Yoab mengenang jika hasil panen perdana dari kebunnya pernah menghasilkan uang sejumlah Rp. 2.500.000. Kebanyakan hanya dengan menjual sayurannya di sekitar kampung saja. Sementara biaya yang dikeluarkan sebatas pengadaan bibit.
Tapi yang lebih penting dari itu adalah dia bisa membuktikan kalau pertanian yang dikerjakannya bisa menjadi sumber pendapatan tanpa merusak sumberdaya alam yang terdapat di hutan.
Yoab sepenuhnya sadar jika kawasan hutan yang berada dalam wilayah adat Knasaimos selalu terancam dengan praktik illegal logging. Karena itu mesti diciptakan alternatif sumber penghidupan (livelihood) yang berkelanjutan.
Yoab memang tidak bekerja sendiri. Bersama kawan-kawannya, mereka pernah mendapat Hibah Inovasi dari Bentara Papua. Hibah tidak berupa uang, tapi peralatan dan bibit untuk mengerjakan kebun.
Menyiapkan Spayer yang berisi Pupuk Organik Cair (POC) buatan sendiri untuk menyuburkan tanaman.
Cerita sukses di kebun sayuran itu akan tetap dilanjutkannya. Yoab ingin meluaskannya ke kampung-kampung yang bisa dijangkau. Bersamaan dengan itu, dia mendorong agar pertanian ini lebih mandiri. “Beberapa warga, seperti di Kampung Kwowok dan Kampung Mlaswat sudah memulai praktik pertanian ini. Ada yang dari anak muda, ada juga yang sudah tua,” katanya.
Pertanian seperti ini sudah terbukti menyuplai kebutuhan masyarakat di dalam kampung, Karena itu potensi kemandirian pertanian lintas kampung semestinya bisa diciptakan bersama-sama.
Persentuhannya dengan teman-teman dari NGO, baik Bentara Papua, Greenpeace maupun EcoNusa, membuat Yoab memikiran isu-isu yang lebih strategis lagi. Terutama berkaitan dengan konservasi kawasan hutan yang berada di dalam wilayah adat marganya.
“Saya sadar betul jika menjaga hutan tidak bisa sendirian. Karena itu saya memulai dengan berdiskusi di internal anggota besar marganya. Diskusi yang dilakukan dimulai dengan membahas peta wilayah adat marga dan potensi yang terdapat di dalamnya. Tidak semata-mata bergantung pada menebang pohon. Kita harus bisa hidup tanpa menebang pohon atau merusak hutan.” katanya lagi.
Pemetaan ruang kelola perempuan untuk pertanian.
Lantas, seperti apa dukungan dari para tetua marga? Para tetua marga sangat bersyukur karena peta wilayahnya sudah jadi. Selanjutnya mereka menunggu peran para pemuda/i melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan.
Impian besar lainya adalah membuat kawasan ekowisata. Bersama kawan-kawannya, Yoab berencana melakukan pemetaan potensi sebaran flora dan fauna di dalam kawasan hutan. Jika memenuhi syarat, mereka berencana mengembangkannya lewat konsep ekowisata. Basis pengelolaannya akan melibatkan lintas marga di dalam satu kampung. Ekowisata bagianya dapat memfasilitasi pemulihan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati di kawasan hutan yang terlanjur rusak karena praktik penebangan liar di masa lalu.
Ide-ide tersebut memenuhi kepalanya dikarenakan oleh salah satu sebab. Yoab sepenuh sadar jika keberadaan Bentara dan Greenpeace tidak selamanya di Kampung Sira dan Manggroholo.
Di masa depan, para pemuda kampung harus merintis jalan untuk mandiri.
“Saya sudah mengumpulkan teman-teman pemuda dan melakukan pembagian tugas. Saya akan fokus mengurusi pertanian, menjadi koordinatornya. Ada kawan yang ditugaskan untuk fungsi yang lain. Kumpulan pemuda ini akan mengadakan evaluasi secara rutin.”
Dari mana kesadaran mengorganisir komunitas ini berkembang? “Dari kaka-kaka Bentara Papua. Saya juga membaca buku Mengorganisir Rakyat yang diberikan oleh Bentara Papua,” katanya.
Buku Mengorganisir Rakyat terbitan INSIST Press. Buku ini adalah refleksi kerja pengorganisasian masyarakat yang ditulis oleh Jo Hann Tan dan Roem Topatimasang, dua orang pengorganisir senior yang malang melintang di Asia Tenggara.
Kelak waktu dan konsistensi yang akan membuktikan kerja-kerja rintisan yang sudah dimulai Yoab Sagisolo dan kawan-kawannya. |
![]() |
Pemuda Solol dan Produksi Komoditas
Hari menjelang tengah hari. Jonpit memisahkan ampas kelapa terakhir yang baru diremasnya. Di hadapan anak pemuda ini, sebuah baskom besar hampir penuh terisi santan.
Jonpit bergegas mengambil plastik dan tapisan. Santan kelapa yang baru diperas itu lantas disaling ke dalam wadah plastik yang salah satu ujungnya sudah terikat. Santan-santan ini akan didiamkan selama 24 jam agar memperoleh Virgin Coconut Oil (VCO). Jonpit tidak sendiri. Dia dimentoring oleh Grison, fasilitator Bentara Papua yang terbiasa membuat VCO.
Grison telah berkali-kali mencoba membuat VCO. Berkali-kali ia harus menghadapi kegagalan dan mencari cara hingga menemukan praktik terbaik. Rangkaian belajar dari kegagalan inilah yang hasilnya disebarluaskan kepada kelompok kecil pemuda Solol.
Produksi VCO adalah salah satu kegiatan rutin yang dilakukan para pemuda kampung di stasiun Solol. Selain Jonpit, ada Gebby, Alfin, Memet dan Rein. Para pemuda ini selalu bersama-sama. Mulai dari menyortir dan melepas batok dari sabutnya, memarut daging kelapa hingga mengolahnya menjadi VCO atau minyak kelapa kampung.
Jonpit dan teman-temannya adalah sekumpulan pemuda yang tidak melanjutkan sekolah hingga ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Ada yang putus sekolah sejak Sekolah Dasar, ada yang hanya sampai Sekolah Menengah Pertama. Sehari-hari mereka berada di stasiun.
“Mereka anak-anak yang mau belajar. Memiliki motivasi khusus yang bikin mereka selalu datang. Berbeda dengan teman-teman pemuda lain yang sekolah hingga perguruan tinggi. (Kelompok yang disebut terakhir ini) cenderung berorientasi menjadi Aparatur Sipil Negara,” kata Grison.
Bentara Papua pernah membuat Sekolah Kampung Merdesa (SEKAM). Para pemuda awalnya hanya mendengar namun tidak terlibat sebagai peserta SEKAM. Sejak saat ini, Jonpin dan kawan-kawan seringkali datang ke stasiun. Mereka melihat aktivitas yang sehari-hari dilakukan, seperti membuat tepung pisang, minyak kelapa dan VCO. Dari pengalaman ini, perlahan mereka mulai belajar dan terlibat pengolahan komoditas.
Buah kelapa yang diolah kumpulan pemuda ini berasal dari kebun masyarakat di Solol. Hampir setiap hari ada yang datang mengantarnya. Buah ini dibeli oleh pengelola stasiun, tidak lagi oleh Bentara Papua yang hanya memberi stimulan di awal. Sebutirnya Rp.1000 untuk buah yang besar. Jika berukuran kecil, harganya Rp. 500/buah. Agar produksi santannya lebih banyak, buah kelapa yang dibeli harus benar-benar tua tapi belum mengeluarkan tunas.
Awal-awal terlibat dalam pemanfaatan buah kelapa menjadi minyak kelapa, Jonpit, dan kawan-kawan memang diberi cukup kebebasan untuk berkreasi. Mereka bebas mengujicoba cara-cara yang mereka tahu sebelum menemukan formula yang sesuai. Misalnya dengan mencoba cara pembuatan yang dilihatnya di rumah masing-masing.
Yunes Bonay, yang sejak awal terlibat pengorganisasian masyarakat Solol, mengisahkan bagaimana mula-mula pemuda membuat minyak kelapa kampung. “Awalnya teman-teman pemuda ini tidak cukup percaya diri. Mereka khawatir jika yang mereka kerjakan hanya akan gagal. Karena itu kami terus mendorong dan memberi kesempatan untuk ujicoba terus-menerus.”
Dalam ujicoba awal, ketika memasak santan hingga menjadi minyak, para pemuda masih mencampur ampas awal dengan minyak yang bening. Proses ini membuat warna minyaknya cenderung keruh, tidak bening. Mereka kemudian mencoba lagi dengan memisahkan sehingga hasilnya lebih bening. Keberhasilan ini membuat mereka lebih yakin dengan proses yang sudah dijalani.
Sekarang ini, Jonpit, dan kawan-kawan sudah memiliki ketrampilan yang cukup baik dalam membuat minyak kelapa. Mereka juga sudah memiliki inisiatif sendiri manakala melihat buah kelapa mulai bertumpuk di halaman stasiun.
Produk olahan yang dihasilkan dari stasiun Solol
Perubahan anak-anak muda seperti Jonpit dan kawan-kawannya juga diperhatikan oleh Bapak Sela, salah satu tokoh pemuda di Solol. “Mereka sebelumnya lebih banyak menganggur di kampung. Tidak ada yang jelas dikerjakan. Tapi sejak ada stasiun Bentara Papua yang melatih membuat minyak kelapa, VCO, juga tepung dari pisang, mereka kini memiliki kegiatan yang produktif.”
Sejauh ini, kegiatan produksi VCO atau minyak kelapa memang masih terpusat di stasiun. Salah satunya karena fasilitas yang lebih lengkap dan bahan baku yang selalu tersedia. Namun setidaknya ketrampilan yang sudah dimiliki Jonpit, dkk bisa menjadi modal awal. Yang bisa bermanfaat dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarganya agar tidak selalu bergantung barang dari warung.
Di luar memproduksi komoditas, rombongan kecil Jonpit ini juga belajar berkebun di halaman stasiun. Mereka belajar menggemburkan tanah, membuat bedengan, serta menanam sayuran seperti cabe, kangkung dan sawi. Hasil dari kebun memang belum seberapa. Jikapun panen, hanya untuk dikonsumsi.
Kunjungan Wakil Bupati Raja Ampat ke Stand Produk Kampung Solol
Dalam jangka panjang, perubahan aktivitas anak-anak muda ini membutuhkan dukungan dari pemerintah kampung Solol. Kegiatan produksi komoditas yang mereka lakukan semestinya bisa ditopang oleh keberadaan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam). Dengan kehadiran BUMKam, proses pemasaran bisa menjangkau kampung-kampung tetangga yang berada di pesisir Pulau Salawati.
Gagasan di atas juga disampaikan Wakil Bupati Kabupaten Raja Ampat yang sempat berkunjung ke Solol ketika menghadiri kegiatan gereja belum lama ini. Tantangan seperti ini juga yang menjadi concern Bentara Papua. |
![]() |
Tete Suling, Tetua yang Menjaga Kesenian Suling Tambur di Kampung Solol
Siang itu, udara bulan Oktober cukup gerah di Kampung Solol. Di dalam ruangan balai kampung, sekumpulan kecil lelaki duduk mengikuti formasi setengah lingkaran. Mereka memegang gitar, jukulele dan stembas. Di samping deretan ini, duduk pula empat orang perempuan sembari memegang selembar kertas. Sedikit terpisah dari barisan ini, di belakangnya, seorang tua berkulit legam dan berbadan gempal duduk. Seorang tua dengan suling di tangannya.
Grup musik ini berencana membuat rekaman lagu. Mereka akan mendaftarkan karyanya ke ajang Papua Green Sound and Culture (PGSC). PGSC merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan Perkumpulan Bentara Papua sebagai ruang menyuarakan kepedulian dan kecintaan terhadap alam, budaya dan masyarakat adat di Tanah Papua. Tahun 2022 adalah pagelaran ketiga PGSC.
Grup musik ini sesungguhnya dadakan. Mereka baru dibentuk dan menamakan dirinya Grup Tepin. Namun karena terbiasa terlibat di kegiatan-kegiatan ruhani gereja, tidak butuh waktu lama untuk menciptakan harmoni musik dan vokal. Pemimpin grup ini adalah bapak muda bernama Lazarus, yang juga merupakan pencipta lagu “Lestarikan Alam”.
Tak berapa lama berselang, irama gitar, jukulele serta stembas mulai bergema. Suara vocal yang berpadu mulai terdengar. Seorang tua itu hanya menatap lantai. Jemari kaki kanannya bergerak naik turun mengikuti irama musik. Ketika tiba gilirannya, ia meniup suling dengan tenang. Beberapa kali sempat tersendat tapi itu tidak mengubah fokusnya. Ketika jeda dan mendapat pengarahan dari pemimpin grup, orang tua ini hanya mengangguk-angguk tanpa bicara.
Suara suling yang ditiupnya memberi dimensi yang lebih syahdu kedalam Lestarikan Alam yang menyuarakan ucapan syukur pada Tuhan atas anugerahnya kepada Tanah Papua.
Funa…Funa..Funa..Funa..Fun nehmol papua cut ni kayamo. (Tuhan..Tuhan..Tuhan..Tuhan..Tuhan menciptakan Papua dengan kekayaannya)
*** Orang tua peniup suling dikenal dengan Tete Suling. Aslinya bermarga Dimara.
Beliau dipanggil Tete Suling karena orang tua satu-satunya di Kampung Solol yang masih aktif meniup suling. Ketrampilan ini memang bukan miliknya seorang. Ada beberapa warga Solol yang bisa meniup suling, termasuk anak lelakinya yang menjadi pemimpin grup musik itu.
“Sebelumnya saya adalah pemain tambur. Karena itu saya lebih mudah mengenali pukulan tambur yang salah ketika meniup suling,” ujar beliau.
Perbedaannya karena Tete Suling adalah peniup suling yang spesial. Beliau mampu menghafal sampai 25 lagu. Beliau juga memiliki nafas yang kuat serta kemampuan membaca not—kemampuan yang jarang dimiliki.
Pada acara Rainforest Festival (21-29 Oktober 2019) yang dipusatkan Bentara Papua di Stasiun Solol, beliau meniup suling dalam penjemputan para delegasi yang datang dari luar. Sama halnya pada saat penjemputan Wakil Bupati Kabupaten Raja Ampat yang menghadiri kegiatan di gereja Ebenhaezer, Solol belum lama berselang.
Beliau harus meniup suling sepanjang perjalanan dari dermaga kampung hingga ke stasiun. Perjalanan sejauh 800an meter. Dengan umur yang tak lagi muda, hanya peniup suling dengan level maestro yang bisa melakukannya dengan stabil.
Bagaimana ketrampilan Tete Suling meniup alat musik yang evolusinya sudah dimulai sejak zaman Neanderthal dibentuk?
Tete Barnabas Sawoy, seorang tetua Kampung Solol yang lain, menceritakan bahwa kesenian Suling dan Tambur diajarkan Guru Pattiwael, yang berasal dari Maluku. Karena itu kesenian ini identik dengan keberadaan gereja, Kesenian dari Maluku ini memang tidak sebatas berkembang di Solol. Di pesisir Papua Barat yang menjadi wilayah penginjilan, suling dan tambur cukup berkembang.
Suling dan Tambur hanya ditampilkan pada perayaan-perayaan hari besar, seperti Natal atau ulang tahun Pekabaran Injil. Selain ditampilkan pada saat penjemputan tamu yang berkunjung. Karena itu kesenian ini mewakili ungkapan kegembiraan, bukan kesedihan seperti pada saat kematian.
“Salah satu dari anak muridnya adalah kakak sepupu Tete Suling,” terang Tete Barnabas yang juga masih kerabat Tete Suling. Keterangan ini senada dengan cerita Tete Suling sendiri.
“Saya belajar dari kakak. Pengajarannya keras tapi saya tetap tabah. Saya percaya, karena ada nasihat yang bilang di ujung rotan guru terdapat emas. Sekarang di ujung suling ada emas buat saya.”
Emas itu bukanlah dalam bentuk imbalan material. Tete Suling tidak menjadi seorang yang kaya dengan meniup suling dimana-mana lantas dibayar karenanya. Meniup suling memang telah membawa dirinya ke kampung-kampung yang jauh, terutama ketika ada kegiatan gereja. Akan tetapi “emas” yang dimaksud lebih bermakna penghormatan pada ketrampilan. Dan lebih besar dari itu adalah kepada peranan beliau dalam merawat kesenian suling tambur di Kampung Solol.
Grizon Krey, salah satu anak muda Solol, berani bertaruh jika yang seperti Tete Suling hanya tersisa di Kampung Solol. “Saya sudah pergi ke kampung-kampung di sekitar Pulau Salawati, tapi rasanya hanya Tete Suling yang terbaik. Tak ada yang seperti beliau.”
Tidak berlebihan jika Tete Suling bisa disebut sebagai seorang tua yang menjaga kesenian tradisi hingga hari ini. Tidak banyak orang yang bisa bertahan sejauh ini. Tete Suling barangkali adalah suling itu sendiri.
Dalam kebudayaan Jepang, Tete Suling mewakili peran seorang Meijin. Meijin adalah seorang narasumber sepuh yang sepanjang hidupnya menjaga tradisi tertentu di masyarakat yang berhubungan dengan praktik-praktik baik untuk merawat kehidupan.
*** “Saya tidak bisa diam di kampung. Saya harus jalan-jalan. Walaupun tidak bekerja,” terang Tete Suling ketika ditanya apa rahasianya bisa hidup sehat sampai sekarang ini.
Sehari-harinya Tete Suling menghabiskan waktu dengan berkebun atau pergi melaut. Jika tidak, beliau bisa ikut serta dengan rombongan orang kampung yang pergi bekerja. Di kebunnya, beliau menanam kelapa, durian, dan pinang. Hanya jenis tanaman jangka panjang.
Beliau sehari-hari senang suka berkelakar. Pergaulannya dengan anak-anak muda juga terasa tidak berjarak. Banyak anak-anak muda sangat menghormatinya.
Tahun 2022 ini, beliau genap berumur 74 tahun. Pada 13 November 1948, beliau dilahirkan. Panjang umur dan selalu sehat, Tete Suling. |
![]() |
Berkunjung ke Stasiun Udohotma di Pegunungan Arfak
Udohotma adalah nama kampung persiapan. Terletak di wilayah administrasi Distrik Sururey, Kabupaten Pegunungan Arfak. Udohotma berada di ketinggiian 2000an mdpl, di salah satu lembah di tepian danau Anggi Giji. Di antara dua kampung tetangga, yaitu Kampung Kobrey dan Kampung Kopo.
Untuk mencapai Udohotma dari Manokwari, harus menyurusi bagian jalan yang membelah pegunungan dan lembah. Di beberapa ruas masih berupa tanah dengan bebatuan kerikil namun sebagian besar sudah diaspal. Rutenya melewati bentang dataran tinggi yang terjal, curam, berkabut namun indah sebelum tiba di pinggiran Danau Anggi Giji.
Dari Manokwari membutuhkan perjalanan darat selama 4 jam dengan jarak tempuh berkisar 100 kilometer dengan menggunakan kendaraan roda empat berteknologi double gardan, sejenis Hilux dan Triton. Warga kampung menyebutnya dengan “mobil ranger”.
Di Udohotma, Bentara Papua membangun stasiun yang diharapkan dapat memfasilitasi terciptanya proses perubahan sosial, ekonomi, dan ekologis ke arah yang lebih baik dimana masyarakat di sekitar adalah actor kuncinya.
Sejarah Stasiun Udohotma Bentara Papua sejak tahun 2017 telah memulai komunikasi awal dengan warga kampung di Bamaha. Komunikasi ini dilakukan sebagai bagian dari visi pertanian alami (organik) berkelanjutan yang berbasis pada potensi kampung. Utamanya pada jenis tanaman sayuran seperti kentang, kol, buncis dan tanaman sumber karbohidrat seperti batatas dan keladi. Bersamaan dengan ini, juga melakukan pemetaan potensi kopi yang tersebar di lanskap Pegunungan Arfak.
Di Bamaha atau Pamaha dalam penyebutan warga kampung, pada mulanya, staf lapangan Bentara Papua menempati rumah yang sehari-hari berfungsi sebagai kantor kampung. Oleh karena merupakan pusat layanan warga, rumah ini selalu ramai. Sehingga tidak bisa dikembangkan menjadi kebun percontohan dari rencana pertanian alami berkelanjutan.
Menjelang akhir tahun 2018, berkembang pemikiran Bentara Papua untuk membuat satu tempat dimana staf yang bekerja di tingkat kampung bisa menerapkan pendekatan “Live-in” dengan lebih fokus. Dengan begitu, dapat memahami denyut kehidupan sehari-hari warga kampung. Sisi positif lainnya adalah staf Bentara Papua juga memiliki ruang untuk mengerjakan kebun yang dapat menjadi contoh dari praktik pertanian alami berjelanjutan.
Di samping pertimbangan ini, stasiun yang direncanakan adalah rumah bagi warga untuk berkumpul dan belajar bersama. Stasiun dapat difungsikan menurut kepentingan warga, seperti untuk pertemuan pemuda gereja, pertemuan dengan pemerintah kabupaten, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, keberadaan stasiun dapat memfasilitasi kerja-kerja pengorganisasian yang langsung dan menyatu dengan hidup sehari-hari warga kampung. Stasiun terintegrasi kedalam ruang sosial-budaya masyarakat kampung sekitar Danau Anggi Giji.
*** Keputusan pendirian stasiun Udohotma oleh Bentara Papua dilakukan setelah melalui penilaian multi-aspek dengan seksama. Secara sosial, Bentara Papua meminta pendapat dari tetua kampung dan tokoh adat ketika menetapkan lokasi yang tidak memiliki konflik lahan antar keluarga.
Selanjutnya melakukan penilaian terhadap kesesuaian lahan dan tingkat tutupan hutan; prasayarat yang mendukung praktik pertanian. Terakhir, pertimbangan letak strategis. Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang posisinya berada di pinggir jalan utama sehingga bisa dilihat langsung oleh warga yang melintasi.
Dari penilaian tersebut, maka dusun yang dinilai paling memenuhi syarat adalah Udohotma. Arealnya terletak di atas lahan milik keluarga besar Bapak Agustinus Inden, salah satu tetua kampung. Lokasinya memiliki luas mencapai 3000 meter persegi.
“Barto yang bilang ke saya, Bapa, kasi lahan supaya tong bikin stasiun baru bisa tanam-tanam. Biar masyarakat dong bisa lihat contoh,” kenang Bapa Agustinus Inden.
Barto adalah anak lelakinya yang juga sarjana Politeknik Pembangunan Pertanian (POLBANGTAN) Manokwari. Bapak Agus mengijinkan selama menambah kemanfaatan bagi masyarakat kampung.
Bentara Papua kemudian membuat kesepakatan yang menjadi dasar ikatan dari pendirian stasiun. Poin-poin kesepakatan yang utama adalah stasiun Udohotma akan bekerja memberdayakan warga kampung yang bermukim di pinggiran danau Anggi Giji dan Anggi Gida, khususnya dalam kegiatan pertanian.
Stasiun ini juga akan dimanfatkan sebagai pusat aktivitas warga kampung di pinggiran dua danau, semisal sebagai tempat pertemuan dan rumah singgah bagi tamu yang datang, tidak sebatas lokasi eksperimen pertanian. Selama berkesesuaian dengan kebutuhan atau kepentingan warga kampung.
Terakhir, stasiun Udohotma bekerja memfasilitasi penguatan kapasitas pemuda tani yang berasal dari kampung-kampung di pinggiran dua danau tersebut. Kapasitas tersebut berhubungan dengan pertanian dan kewirausahaan.
Pembangunan stasiun dikerjakan bersama-sama dengan warga kampung. Dimulai dari penyiapan lahan hingga penyiapan material berupa kayu buah, pasir dan papan. Sedang tukang kepala didatangkan oleh Bentara Papua. Keseluruhan proses pembangunan ini memakan waktu sekitar 5 bulan.
Stasiun Udohotma, Rumah Belajar dan Berjejaring Sesudah bangunan fisik stasiun berdiri, Bentara Papua mulai mengembangkan demonstration plot (demplot) tanaman pangan, sayuran dan kopi di pekarangannya. Adapun jenis tanaman pangannya adalah keladi dan kentang, sayurannya berupa wortel, terong Belanda, serta bawang daun.
Demplot ini pada dasarnya adalah laboratorium lapangan yang memfasilitasi proses belajar bersama dalam pengelolaan kebun berkelanjutan. Bentuk lain dari sekolah lapang.
Di luar aktivitas pertanian, stasiun ini mulai memfungsikan dirinya sebagai rumah belajar. Utamanya dalam kebutuhan pengembangan kapasitas generasi muda dari kampung-kampung di pinggiran Danau Anggi.
Seperti pada tanggal 18 Juli 2022, Bentara Papua dan perwakilan pemuda lintas kampung mengadakan kegiatan belajar yang dikenal dengan Sekolah Kampung Merdesa (SEKAM). SEKAM yang bertema “Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Kampung dan Berkelanjutan”.
Secara prinsipil, SEKAM adalah proses belajar dengan filosofi orang dewasa (andragogi). Pendidikan seperti ini dengan menjadikan dialog pengalaman antara peserta dari setiap kampung terhadap tema-tema tertentu yang berkesesuain dengan hidup sehari-hari mereka. Dialog yang merefleksikan pemahaman terhadap ruang hidup beserta masalah-masalahnya.
|
![]() |
Melihat Pembuatan Tepung Pisang di Kampung Kwowok
Ruang tengah rumah panggung mulai penuh dengan lingkaran kecil 8 orang perempuan. Beberapa bocah yang penasaran berdiri mengikuti lingkaran.
Dua buah blender, sebuah baskom besar, tapisan dan baskom yang lebih kecil terletak di hadapan mereka. Di dalam baskom besar berisi potongan tipis pisang Kepok (Musa x paradisiaca).
“Mama, nanti kalau saya sudah cok kabel ini, mama tolong tahan penutupnya,” kata Naomi. Naomi adalah fasilitator Bentara Papua yang mengajarkan cara membuat tepung dari bahan dasar pisang. Seketika semua hening, memusatkan perhatian pada putaran blender.
Desing suara blender mulai terdengar, potongan pisang yang tipis dan kering perlahan-lahan hancur. Berubah menjadi butiran halus berwarna putih.
Sesudah itu, bubuk tepung dipindah ke tapisan yang di bawahnya telah disediakan baskom kecil. Tapisan digerakan dua orang mama yang lain. Bubuk putih halus kini memenuhi baskom kecil. Tepung pisang kini tinggal dioseng (dipanaskan di dalam wajan tanpa minyak-red) lantas dikemas.
Sore itu, Naomi tidak sendiri. Dia ditemani oleh mama Yosefina Sreklefat. Mama Yosefina atau yang sehari-hari lebih dikenal dengan Mama Arki adalah warga kampung yang sudah terampil membuat tepung berbahan dasar sagu.
Mama Yosefina berasal dari kampung Kwowok, kemudian menikah dengan Bapa Arki Kladit, tokoh adat yang menetap di kampung Sira. Latar belakang seperti ini membuat Mama Arki berkeinginan agar ketrampilan membuat tepung dari bahan yang tersedia di sekitar bisa dipelajari oleh perempuan-perempuan sekampung.
“Kalau bikin tepung (dari) sagu, sudah beberapa kali saya kasi belajar mama-mama di sini, tapi untuk tepung pisang baru kali ini. Saya juga baru belajar.’ Mama Arki menambahkan.
*** Di kampung Kwowok, Sira dan Manggroholo, pohon pisang sudah lama ditanam warga kampung, baik sebagai tanaman pekarangan maupun tanaman kebun.
Dari pemetaan potensi tanaman pisang yang dilakukan Bentara Papua di bulan September 2022, terdata jika di Kwowok, terdapat sekurangnya terdapat 5 jenis pisang: Dewaga, Dewaga Abu-abu, Raja, Kepok, dan Pisang Tali (Ojo Tali). Diperkirakan jumlahnya mencapai 2.618 batang pohon.
Selama ini warga kampung di Kwowok hanya memanfaatkanya sebagai sumber panganan sehari-hari. Jika hasil panen berlebih, hasilnya dijual ke kabupaten yang waktu tempuh 45 menit dengan kendaraan roda empat. Pisang kepok di pasar Teminabuan rata-rata dijual seharga Rp. 10.000/sisir. Satu tandan yang besar bisa berisi lebih dari sepuluh sisir. Sekali ke sana, harus membayar Rp.40.000/orang, menyesuaikan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sejauh ini, Bentara Papua bersama pengurus LPHD baru mencoba agar pisang dapat menjadi berkembang sebagai salah satu alternatif livelihood. Terhitung sejak bulan April tahun ini, Bentara Papua stasiun Sira menginiasinya.
Praktik diversifikasi sumber pangan ini sebelumnya cukup berhasil dikerjakan mama-mama di Kampung Solol, Kabupaten Raja Ampat. Diharapkan pembelajaran dari Solol boleh membantu mama-mama di tiga kampung yang memiliki akar sosio-historis yang sama ini.
Sebagaimana telah lama diketahui, Manggroholo dan Sira adalah dua kampung yang memiliki ijin pengelolaan hutan desa. Keduanya juga merupakan pemegang Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) pertama di Papua Barat dan Papua.
Sejak mendapatkan izin Kementrian LHK di tahun sejak tahun 2014, pengurus Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) telah menyusun rencana usaha. Salah satunya mengembangkan komoditas eksisting dengan melibatkan kaum perempuan sebagai subyek utamanya. Dengan fasilitasi Bentara Papua, mereka mengikuti pelatihan pembuatan hingga pengemasan tepung pisang. Hasilnya dipasarkan lewat koperasi KNA Mandiri di Kampung Sira.
Usaha pemanfaatan pisang diharapkan dapat memberi kontirbusi positif terhadap praktik-praktik pengelolaan sumberdaya alam dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Bersamaan dengan aksi ini, usaha bersama untuk ketahanan pangan dan sumber penghasilan warga kampung bisa terjadi dalam proses yang berkesinambungan.
***
“Untuk membuat tepung pisang, kitong tra perlu menghabiskan waktu yang lama. Kitong cuma perlu mengupas pisang. Setelah itu, campur dengan garam sedikit supaya mengurangi getahnya. Jika cuacanya cerah, menjemurnya cukup sehari atau dua hari,” terang kaka Yokbet Yajan. Yokbet adalah salah satu yang mengikuti pelatihan.
Pekerjaan terakhir yang dilakukan adalah menghancurkan potongan pisang yang sudah kering itu menjadi bubuk tepuk, dengan blender atau ditumbuk di lesung.
“Jadi, mama, kalau sudah seperti ini (bubuk-red), kitong tinggal panaskan tepung dengan mengoseng saja. Ini supaya tepungnya bisa lebih tahan lama,” ujar Naomi. Karena hari menuju senja, para peserta kemudian berpindah ke kantor kampung yang terletak di seberang. Rasa penasaran mengikuti mama-mama ini. Seperti apa hasilnya?
Seorang adik perempuan menyalakan kompor Hooks. Bubuk putih terus dipanaskan sembari dibolak-balik pelan-pelan di dalam wajan dengan nyala api berukuran sedang. Sekitar 5 menit, wajan kemudian diturunkan.
“Tepungnya sudah jadi. Kitong tunggu dingin baru dimasukan kedalam kemasan plastik. Di kemasan ini, sudah tertulis kalau tepung pisang dibuat oleh mama-mama dari Kampung Kwowok,” pungkas Naomi.
Sore itu, pelatihan sederhana yang melibatkan 8 perempuan dari kampung Kwowok diakhiri. Ditemani gorengan pisang dengan balutan tepung yang baru dibuat bersama seteko penuh kopi.
Dari pelatihan ini, sekurang-kurangnya ketika hari raya Natal tiba, para perempuan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar demi membeli tepung terigu. Mereka hanya perlu menyiapkan pisang Kepok. |
![]() |
Papua Green Sound and Culture 2022
Hello... Sobat Bentara Tahun ini Papua Green Sound & Culture (PGSC) ke-3 segera hadir. Ayo suarakan alam papua dengan cipta lagu dan video terbaik dengan mengirim ke Link: https://bit.ly/DAFTARPGSC2022
HADIAH
Juara 1 : Rp. 8.000.000 + Trophy + Sertifikat
Juara 2 : Rp. 6.000.000 + Trophy + Sertifikat
Juara 3 : Rp. 4.000.000 + Trophy + Sertifikat
Juara 4 : Rp. 2.500.000 + Sertifikat
Juara 5 : Rp. 1.500.000 + Sertifikat
Juara Favorit : Rp. 2.500.000 + Trophy + Sertifikat
SYARAT & KETENTUAN berikut:
1. Santun, tidak minyinggung SARA, tidak mengandung unsur politik praktis dan Pornografi
2. Terbuka Untuk umum bagi masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat atau KTP berdomisisli di Kedua Provinsi tersebut. 3. Lagu ciptaan wajib tentang alam dan budaya papua 4. Solo, Duo/Grup 5. Karya Organik dan belum pernah dipublish 6. Tidak boleh menggunakan aksesoris langsung dari alam (contoh: burung Cendarawasi, mambruk, dll). 7. Karya lagu dalam format video MP4 8. Dengan resolisi maksimal 1080p 9. Jika lagu dalam bahasa daerah wajib melampirkan text terjemaan dalam bahasa Indonesia 10. Mengirim dokumen pendaftaran dan 1 karya melalui (https://bit.ly/DAFTARPGSC2022) 11. Untuk informasi selanjutnya dapat dilihat pada www.bentarapapua.org atau hubungi 08114864692 Ayo mampir dan subcribe youtube Papua Green Sound and Culture ya???? |
|
Kerangka Acuan Kerja Audit Laporan Keuangan Tahunan Perkumpulan Bentang Nusantara (Bentara) Papua
1. Latar Belakang
|
![]() |
Ada Institusi Desa Berhasil Jual Karbon, Harusnya Pemerintah Buka Mata
Jakarta,- Skema perdagangan karbon melalui Perhutanan Sosial (PS), seharusnya bisa membuka mata Pemerintah Republik Indonesia, karena sudah ada yang membuktikan itu berhasil dan hasilnya nyata dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan. |
![]() |
Lomba Video Satu Menit Fakta Hutan Papua
Papua memiliki hutan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Hasil penelitian kolaboratif para ilmuwan dari 19 negara yang diterbitkan awal Agustus 2020 di Jurnal Nature menemukan ada 13.634 spesies tumbuhan dari 1742 genus dan 264 famili. Jumlah ini memposisikan Pulau Papua sebagai pulau dengan keanekaragaman tumbuhan terkaya di dunia. Data ini menunjukkan bahwa Papua memiliki lebih banyak dari Madagascar yang telah diketahui sebagai pusat keanekaragaman hayati (16 persen), yang tercatat memiliki11.488spesies. |
![]() |
PGSC salah satu gagasan Pemersatu Budaya Papua
Manokwari,- Papua Green Sound and Culture (PGSC) adalah salah satu gagasan Bentara Papua yang berfokus kepada anak muda. Kegiatan ini lebih ditekankan bagi anak muda untuk lebih meningkatkan kreativitas. “Bahasa pemersatu di Papua ini secara umum adalah melalui musik” ujar Yudi, Penanggung jawab PGSC saat melakukan konferensi pers di Pondok Bentara, Rabu (3/6/2020). |
![]() |
Papua Green Sound and Culture 2020
Bentara Papua kembali akan menggelar Papua Green Sound and Culture ke-2. Kali ini themanya Music dari Rumah untuk Alam dan Budaya Papua. Pesertanya diharapkan dapat menciptakan lagu dan dinyanyikan sendiri maupun bersama group, dari rumah saja. Syaratnya bisa lihat di bawah ini: - Santun, tidak menyinggung SARA, Politik dan Pornografi |
![]() |
Perempuan Bantu Perempuan
“Dari kegiatan Belajar Bersama tentang Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Workshop Membuat Pembalut Kain di Manokwari dan Pegunungan Arfak” |
![]() |
Masyarakat Adat Harus Lebih Siap Mengelola Hutannya Sendiri
“Dari Konsolidasi Mitra LPHD Manggroholo Sira di Teminabuan” |
![]() |
Unipa usul Pengelolaan Sawit Berkelanjutan ala Papua
Manokwari,- Dekan Fakultas Pertanian Universitas Papua, Dr. Agus Sumule menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat menerapkan model Pengelolaan Sawit Berkelanjutan ala Papua, dimana tanah masyarakat pemilik hak ulayat(masyarakat adat) harus disewa oleh perusahaan sawit, sehingga setiap tahun masyarakat pemilik tanah itu bisa mendapatkan uang yang besar,bahkan memiliki dana abadi. |
![]() |
Orang Arfak Tidak Membuat Rumah Kaki Seribu dari Sawit
“Pernyataan Jurkam Greenpeace Papua diplesetkan Nunik dari ANJ” |
![]() |
Pemerintah Dinilai Gagal Mengelola Akses Terhadap Hutan Adat di Papua
Manokwari(12/2/2020),- Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Papua, Dr.Jonni Marwa,S.Hut,M.Si mengatakan, Pemerintah Pusat dan daerah gagal mengelola akses yang diberikan Presiden Joko Widodo terkait akses kelola masyarakat adat terhadap hutan adat,padahal sudah diberikan dari tahun 2016. |
![]() |
Sepuluh Seruan Generasi Milenial Cinta Hutan Papua
Hutan dan laut Papua adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun. Hutan dan Laut Papua adalah asset bagi masyarakat Papua. Ketika hutan hancur, maka sumber mata pencaharian masyarakat papua akan hilang/punah, sebaliknya juga, sumber daya laut hancur, maka mata pencarian masyarakat pesisir papua akan hilang sehingga sangat penting untuk menjaga dan melindungi Hutan Hujan Papua sebagai sumber penghidupan dan laut sebagai sumber penopang hidup bagi Orang Asli di Tanah Papua. |
![]() |
Guru, Dosen dan Peneliti di Papua Barat diharapkan bisa memanfaatkan Jurnal Igya ser hanjop
Manokwari(11/2/2020),- Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat menggelar kegiatan Diseminasi dan Publikasi Hasil-Hasil Penelitian Pengembangan dan Inovasi Daerah di Manokwari, Selasa(11/2/2020). Ada 8 hasil penelitian yang dipaparkan dalam kegiatan desiminasi ini. Materi sesi pertama yaitu Dampak Pengelolaan Kawasan Lindung dan Pariwisata Terhadap Pendapatan Orang Asli Papua, Kajian Kebijakan Bidang Ekonomi di Provinsi Papua Barat dan Analisis Kebutuhan Sumber Energi Alternatif Terbarukan di Provinsi Papua Barat. Dilanjutkan materi sesi 2, yakni Kajian Akademik Sistem Pendidikan Orang Asli Papua Berpola Asrama, Kajian Kebijakan dan Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Papua Barat, Inventarisasi Hasil-hasil Inovasi Daerah di Provinsi Papua Barat, Ekspedisi Mangrove Papua Barat dan Survey High Carbon Stock (HCS)/Stock Carbon Tinggi di Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Sorong Selatan. Selain itu, ada tambahan materi lain, yakni Urgensi Diseminasi Kelitbangan, yang disampaikan oleh Moh. Ilham Hamudy,S.IP.,M.Soc.Sc dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (BPP Kemendagri), serta Hak Kekayaan Intelektual dan Manfaatnya Bagi Lembaga Litbang, yang disampaikan oleh Kakanwil Hukum dan HAM Papua Barat, Drs. Theo Ayorbaba,M.H. Panel diskusi pertama dipandu oleh moderator Hendra Fatubun,S.Hut dari Balitbangda Papua Barat. Hendra kemudian memberikan kesempatan pertama kepada Moh. Ilham Hamudy untuk menyampaikan materinya. “Saya tidak akan menjelaskan tentang desiminasi,publikasi dan sejenisnya, tapi saya akan fokus kepada Igya ser hanjop (Jurnal Ilmiah yang diterbitkan Balitbangda Papua Barat). Saya sangat senang ketika Papua Barat bisa meluncurkan itu. Karena meskipun baru berumur 3 tahun, Badan Litbang Papua Barat sudah mempunyai Jurnal Ilmiah,” ujar Ilham Hamudy mengawali presentasenya. Kalau di perguruan tinggi, lanjutnya, itu hal yang biasa. Tapi ini diterbitkan oleh Balitbangda yang baru seumur jagung, itu hal yang luar biasa. “Tapi masih banyak kekurangan dari Igya ser hanjop (Jurnal ilmiah) ini. Kita ketahui ada Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018. Semua publikasi ilmiah tidak bisa lagi versi cetak, yang benar itu yang versi elektronik. Karena versi elektronik yang didaftarkan di ristekdikti,” jelasnya. Balitbangda ini, kata Ilham Hamudy, ada di bawah pembinaan Badan Peneltian dan Pengembangan Kementerian dalam Negeri. Jadi harus tunduk pada peraturan Menteri Dalam Negeri. Permendagri Nomor 17 Tahun 2016 itu mewajibkan semua hasil penelitian dan pengembangan itu dipublikasikan di jurnal ilmiah. “Meskipun Permendagri itu tidak mengharuskan Bapak/Ibu membuat jurnal ilmiah tetapi hasil kelitbangan yang dilakukan selama satu tahun anggaran, itu wajib dipublikasikan. Tapi kita tidak tergantung saja pada Permendagri 17, tapi ada Ristekdikti juga,” tandasnya. Di Unipa ( Universitas Papua ), lanjut Ilham lagi, ia menemukan ada beberapa jurnal yang dipublikasikan, tapi yang sudah terakreditasi hanya jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik(http://ejournalfpikunipa.ac.id),jurnalnya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unipa.Jurnal itu termasuk kategori sinta 3. (Berdasarkan pengertian yang terdapat di laman Ristekdikti, SINTA (Science and Technology Index) merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti, penulis, author, kinerja jurnal dan kinerja institusi iptek. Keunggulan utama SINTA dibandingkan dengan portal peng-indeks yang lain yaitu dapat secara otomatis meng-indeks hasil karya yang telah ter-indeks di Google Scholar, Scopus, InaSTI dan Indonesian Publication Index (IPI)). “Nah ini yang harus digalakkan. Jika Balitbangda Papua Barat mengambil peluang itu, ini akan sangat membantu. Sebab jurnal ini sangat penting bagi rekan-rekan yang punya predikat fungsional ( Dosen, guru, peneliti) itu angka kreditnya dari situ. FKIP Unipa saya lihat ada 5 jurnal, tapi belum ada yang terakreditasi,” bebernya. Satu jurnal itu, kata Ilham, paling banyak memuat 10 artikel. Karena itu, mengingat banyak guru, dosen dan peneliti yang ada di Papua Barat, maka Igya Ser anjop ini bisa jadi wadah bagi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya agar bisa minimal naik pangkat atau mengumpulkan angka kredit. “Jurnal Igya ser anjop ini tentang pembangunan berkelanjutan. Jadi kalau bapak ibu punya karya ilmiah terkait pembangunan berkelanjutan, itu bisa submit ke Igya ser anjop. Ini terbitnya 2 kali setahun ( Juni dan Desember). Setiap terbit memuat enam artikel. Panjangnya 38 -40 ribu karakter tanpa spasi. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa elektronik, sehingga perjalanannya bisa sampai terakreditasi. Kalau hanya berhenti di tataran cetak, itu tidak akan terakreditasi,” tegasnya. Ilham Hamudy yang juga pemimpin editor jurnal ilmiah Bina Praja milik BPP Kemendagri inipun memberikan masukan terhadap artikel-artikel yang sudah dimuat di Jurnal Igya ser hanjop. “ Sistematika penulisannya harus diperbaiki lagi, kemudian daftar pustaka yang digunakan juga tidak bisa ditelusuri, jadi harus merujuk pada artikel ilmiah yang sifatnya elektronik, sehingga mudah ditelusuri. Selain itu, ada beberapa orang yang terlibat dalam beberapa tulisan, itu juga tidak bisa terbit dalam satu nomor penerbitan. Satu nama, hanya bisa ada dalam satu nomor penerbitan. “ Nah, itu beberapa kelemahan dari artikel-artikel yang sempat saya baca di jurnal Igya ser anjop,” tandasnya. ( Bersambung) Ditulis oleh : Ab Yomo |
![]() |
Provinsi Pembangunan Berkelanjutan Untuk Membuat Dunia Lebih Baik
Gubernur : Tugas utama kita adalah mewariskan mata air bagi anak cucu kita, bukan sebaliknya mewarisi air mata bagi mereka. |
![]() |
Hasil Pertemuan Koalisi CSO Papua Barat Sedang Digarap Tim Perumus
“Dokumen Hasil Perumusan Akan Disampaikan Dalam Waktu Dekat” Manokwari,30/01/2020,- Selama tiga hari, sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) di Papua Barat dan beberapa LSM Nasional (NGO) melakukan pertemuan membahas langkah-langkah strategis kerjasama antar lembaga dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Barat. Pertemuan itu digelar di Manokwari, Selasa-Kamis ( 28-30/01/2020). Pada pertemuan hari pertama, dikhususkan bagi CSO Papua Barat, yang bertujuan untuk mengakomodir dan menyatukan persepsi tentang tujuan bersama seperti apa yang diharapkan? serta bentuk komunikasi seperti apa yang diinginkan dengan NGO di tingkat nasional. Diskusi hari pertama itu berjalan cukup alot bahkan muncul banyak pandangan tentang koalisi ini. Ada peserta yang menanyakan mengapa harus berkoalisi?kepentingannya apa? ada peserta yang pesimis, karena kuatir koalisi ini akan seperti koalisi sebelumnya yang tidak bisa membantu CSO di Kabupaten lain atau berjalan sendiri-sendiri. Ada yang berpandangan bahwa koalisi atau aliansi bersama ini penting, karena akan menjadi kekuatan dalam gerakan bersama mendorong perubahan di Papua Barat bahkan Tanah Papua secara umum. “Saya belum melihat kita semua diberi kesempatan untuk secara jujur menjawab persoalan-persoalan besar yang dahulu terjadi, sehingga koalisi dulu berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan,” kata Solihin, salah satu peserta pertemuan. aktivis yang pernah bekerja di LSM Perdu dan kini menjadi staf ahli di MRP Papua Barat. Menurutnya, ada hal-hal yang sifatnya sepele tapi kemudian menjadi pengganggu utama.Ia kemudian mencontohkan, misalnya ada rekan-rekan yang masih saling mencurigai, saling sikut menyikut, saling melakukan pembusukan di belakang, saling menjatuhkan, dan lain-lain. “Menurut hemat saya kalau hal-hal ini tidak diungkapkan secara jujur untuk kemudian mencari solusi bersama, maka koalisi atau apapun namanya yang kita bentuk di 2020 ini, akan mengalami nasib yang sama,” tandasnya. Berikutnya,lanjut Solihin, apakah CSO di Papua Barat masih membutuhkan apa yang disebut berkoalisi? Sebab menurutnya, kekuatan koalisi bukan pada koalisi sebagai sebuah forum atau tempat bertemu kemudian menyampaikan ide, tapi kekuatan koalisi itu berada pada anggota masing-masing. Dimana jika anggota masing-masing itu mampu mengelola lembaganya dengan baik, maka itulah sebenarnya kekuatan koalisi. Hal-hal inilah yang menurutnya belum terjawab dan harus dituntaskan pada pertemuan ini. “Kalau koalisi berjalan dengan 50 anggota, kemudian 40 anggota sakit-sakitan, ada 5 anggota sudah mau meninggal, atau 5 anggota ada kantor, tapi tidak ada aktivitas, tetap sama saja. Itu yang belum tampak dalam isu utama kita,” jelasnya. Hal lainnya, sambung Solihin, harus diluruskan posisi CSO yang bekerjasama dengan Pemerintah dan CSO yang oposisi dengan pemerintah, dan harus membicarakan perubahan apa yang diharapkan dari berkoalisi? atau perubahan sosial seperti apa yang diharapkan?. “Kalau ini belum clear, saya yakin koalisi yang dibentuk ini akan seperti koalisi kemarin (2013/2014),” tegasnya. Selain Solihin,ada peserta lainnya juga memberikan pendapat yang berbeda namun pada substansi yang sama, kemudian masukan-masukan itu diakomodir menjadi beberapa isu yang dibahas dalam empat kelompok. Hasil pembahasan 4 kelompok ini yang selanjutnya dielaborasi oleh tim perumus untuk disusun menjadi sebuah dokumen kesepakatan bersama. Pada hari pertama juga dilanjutkan dengan pemilihan koordinator koalisi. Dari dua kandidat, yakni Direktur Papuana Conservasi, Esau Yaung dan Direktur Panah Papua, Sulfianto, akhirnya Esau Yaung, yang dominan mendapat dukungan peserta. Kemudian hari kedua dilanjutkan dengan pemaparan sejumlah NGO Nasional, mulai dari TAF, WRI, GGGI, Clua, Econusa, Samdhana,dan beberapa lembaga lainnya. Kemudian dilanjutkan diskusi dan tanya jawab. Intinya, semua NGO nasional sangat menghargai CSO Lokal yang ada di Papua Barat dan terbuka untuk bekerjasama. Hanya saja, diperlukan pemahaman bersama dalam hal tanggung jawab dan komunikasi yang baik, sehingga tidak ada yang dirugikan atau menjadi korban lalu buntutnya akan saling menyalahkan. Selanjutnya pada hari ketiga, dilanjutkan dengan pembahasan road map. Hasil pembahasan road map itu kemudian diserahkan kepada tim perumus untuk dirumuskan dengan baik, dan akan disampaikan kepada anggota koalisi setelah rumusan itu tuntas dikerjakan. ( Ditargetkan April atau Juni ). Penggagas atau Dinamisator kegiatan Workshop, Andi Saragih merasa senang dan bangga, karena keinginannya untuk menyatukan kembali rekan-rekan CSO Lokal se-Papua Barat dapat terwujud dan terlaksana dengan baik. “Saya berharap ada ruang bagi teman-teman CSO di wilayah kepala burung (Provinsi Papua Barat) untuk duduk bersama menyatukan pikiran terkait dengan kondisi sosial, budaya,ekonomi dan lingkungan termasuk Sumberdaya Alam di Papua Barat,” jelasnya. Kata Andi, selama ini teman-teman CSO ada dalam koalisi, tapi tidak berjalan baik, jadi pertemuan ini sebenarnya dalam rangka merapikan saja, dan membuat CSO Papua Barat lebih terorganisir dengan baik, sehingga lebih kuat dan solid memperjuangkan visi dan misi bersama, selain visi dan misi organisasi masing-masing. “Kami juga mengundang teman-teman nasional (NGO) Nasional yang bekerja di Papua Barat. Harapannya bisa terjalin komunikasi lebih baik lagi, sehingga tidak terjadi saling curiga, tapi sebaliknya berkolaborasi untuk mendorong perubahan di Papua Barat,” tutur mantan Direktur Mnukwar Papua ini. Sementara itu, Koordinator Koalisi CSO Papua Barat, Esau Yaung mengatakan, langkah pertama yang akan dilakukannya adalah melakukan konsulidasi dengan sejumlah CSO di Kabupaten/Kota se-Papua Barat. “Untuk melihat hal-hal penting apa yang harus dan segera didorong bersama. Saya kira ini pertemuan dasar yang penting, untuk menyusun agenda-agenda bersama ke depannya, sesuai dengan apa yang dibahas selama tiga hari ini,” jelasnya.*)
|
![]() |
Konservasi Papua Barat Bukan Soal Ikannya, Tapi Untuk Masa Depan Anak-Anak Papua
Manokwari(23/01/2020),- Konservasi Papua Barat bukan soal ikannya, tapi untuk masa depan anak-anak Papua. Demikian kata Mark Erdmann, Peneliti dari Conservation International Indonesia ketika mempresentasekan materinya pada kegiatan Talkshow Interaktif Pembangunan Berkelanjutan antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Mitra Pembangunan, di Manokwari, Kamis(23/01/2020). Berikut ini adalah pernyataannya... Kalau kita bicara tentang Provinsi Konservasi menurut saya hal yang paling pokok untuk kita tayangkan adalah justru anak papua, bukan ikannya. Karena yang mau kita buat dengan Provinsi Konservasi, dengan Perdasus, dengan Deklarasi Manokwari adalah untuk menjamin masa depan anak Papua. Karena itu mengapa kita begitu banyak memberikan waktu dan investasi untuk merealisasikan satu Provinsi Konservasi. Jadi saya harap kita untuk selalu mengingat anak Papua. Saya meminjam satu dua kata dari Fredi Numberi dalam bukunya Quo Vadis Papua, yang dalam bahasa latin maksudnya Papua mau d bawa ke mana? Atau Papua Barat mau dibawa kemana? Saya pikir foto ini ( Menunjukkan slide foto anak papua yang hendak melompat dari tebing air terjun ke laut) cukup tepat untuk kita melihat hal itu, juga pada saat kita mau membahas Provinsi Konservasi. Di foto ini kita bisa melihat ada alam Papua yang begitu indah, ada air terjun, ada hutan, ada laut yang bagus, dan di tengah-tengah itu ada masyarakat Papua. Nah, kita bisa mempertanyakan, masyarakat Papua itu mau ke mana? Apakah dia mau jatuh dan tenggelam di dalam globalisasi ini? Atau dia justru mau menikmati dia punya alam ini. Dia mau memanfaatkan itu sebagaimana mestinya. Saya pikir itu yang membuat kenapa kita bergabung hari ini untuk membahas itu. Kalau membahas Quo Vadis Papua, saya mengharapkan kita akan menuju kepada Provinsi Konservasi. Kenapa presentase saya akan membahas tentang Papua Barat?atau Tanah Papua seluruhnya layak dijadikan sebagai Provinsi Konservasi Pertama di dunia? Saya sebagai orang laut, akan membicarakan sedikit tentang keunikan sumber daya alam laut yang ada di Papua Barat. Menurut saya sudah ada beberapa langkah kongkrit yang dilakukan terhadap laut di Papua Barat. Ketika kita menanyakan kenapa Papua Barat layak dijadikan Provinsi Konservasi?Saya pikir kita lihat dari tiga sisi; Pertama dari masyarakat adat atau orang asli Papua yang sangat tergantung pada kekayaan alam Papua dan sangat rentan terhadap globalisasi, dimana kita lihat haknya sering disingkirkan oleh perusahaan, dan itu sudah lama sering terjadi dan sekarang kita mau merubah itu. Dari sisi alam daratannya, 90 persen dari hutannya yang ada di sini masih cukup utuh, dan ini salah satu hutan tropis terbesar yang ada di dunia, dan itu penting sekali. Bakau dan Gambut di sini juga sangat luas dan ini penting sebagai pengelola karbon. Mudah-mudahan transfer fiskal ekologis yang sedang digarap itu bisa terwujud. Keanekaragaman hayati di darat ini juga sangat khas, sangat endemik namun terancam, mulai dari burung cenderawasih sampai kangguru pohon. Dari sisi alam lautnya jelas-jelas, karena ini mungkin keahlian saya, kita bisa bilang bahwa keanekaragaman hayati di laut Papua Barat ini tertinggi di dunia, dengan ekosistem laut yang sangat terbaik. Tidak ada tempat lain di dunia yang seperti punya kita di sini( Papua Barat). Ini sangat-sangat penting bagi ketahanan pangan dan sumber ekonomi bagi masyarakat asli Papua di pesisir. Papua Barat merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia ini. Ada lebih dari 600 spesies karang, itu 75 persen dari seluruh dunia punya karang, ada di Papua Barat. Angka terakhir 1859 spesies ikan karang yang ada di Papua Barat. Itu 300 spesies lebih banyak daripada yang ada di Australia, yang orang mengaku sebagai terumbuh karang yang sangat hebat. Kita punya hampir 25 persen lebih banyak spesies di sini dibandingkan Australia, padahal kita 80 persen lebih kecil dari Australia. Kita juga punya Jamursba Medi di Tambrauw, yang merupakan kawasan bertelur Penyu Belimbing terbesar di Dunia. Selain itu ada masih banyak lagi yang lain, ada Paus, Hiu dan sebagainya. Tempat ini memang tidak kalah dengan tempat lainnya di dunia. Anda perna dengar segitiga karang, tempatnya dimiliki oleh Indonesia, Filipina, Timor Leste, Papua New Guinea dan Salomon Island. Justru Papua adalah jantung dari segitiga karang itu. Yang lain-lain punya 500 lebih spesies karang, Papua Barat punya 600 lebih spesies karang.Kita juga punya terumbu karang yang berbeda. Ketika terjadi perubahan iklim, kita lihat tempat-tempat lain mau mengalami pemutihannya. Kalau ada pemanasan di laut, terumbuh karang di tempat lain menjadi putih. Tapi di Papua Barat sangat berbeda. Kadang kita lihat dia putih, tapi kalaupun putih, dalam satu dua bulan dia akan kembali normal. Berarti ini tempat yang sangat penting masa depannya terumbu karang di seluruh dunia. Nah dari perspektifnya ikan karang, saya juga mau bilang bahwa ikan di Papua Barat juga paling banyak di seluruh dunia. Justru dalam dua puluh tahun terakhir ini kita sudah menemukan 100 spesies baru yang hanya ada di Papua Barat. Sejumlah ikan yang baru ditemukan itu kemudian diberi nama beberapa tokoh putra papua, seperti Mantan Menteri Perhubungan Fredy Numberi,mantan Gubernur Papua Barat, Mantan Bupati Raja Ampat, juga ada jenis ikan baru yang dilabeli nama Unipa. Dari perspektif konservasi, raja ampat perkembangannya sangat luar biasa. Itu karena Pemerintah bekerjasama sangat dekat dengan masyarakat lokal bahkan LSM Lokal. Jadi begitu banyak spesies baru yang hanya bisa didapat di papua Barat. Walaupun ikan kecil, itu adalah aset penting bagi Papua Barat. Orang dari luar datang ke sini untuk melihat ini, karena tidak ada di tempat lain di dunia. Papua Barat juga punya megafone yang luar biasa. Penyu Belimbing terbanyak di dunia, justru bertelur di sini. Ada empat tempat pembesaran Manta ( Pari Raksasa) di raja ampat, di tempat lain di seluruh dunia sulit ditemukan. Dari perspektif duyun, di tempat lain di Indonesia sudah mau punah, tapi di Papua masih banyak.Yang menarik sekali Penyu Belimbing ketika dia sudah bertelur di Tambauw, dia akan menyebrang lautan pasific hingga sampai di California Amerika Serikat, lalu dia balik lagi ke Papua Barat (Tambrauw) untuk bertelur. Ini menunjukkan bahwa Papua Barat menjadi penting sekali bagi biota laut di seluruh dunia. Papua Barat juga memiliki populasi Hiu Paus terbesar di dunia.Paling gampang untuk dilihat turis. Kita memberi tanda pada ikan paus di Teluk Cenderawasih dan kaimana, kita lihat dia bisa pergi ke Sulawesi sampai ke Australia. Ada beberapa yang hanya tinggal di Teluk Cenderawasih, tapi ada beberapa yang bisa pergi ke Sulawesi, Australia, Papua New Guinea. Kita juga punya hiu yang berjalan sirip. Bagi orang Papua mungkin ini adalah hal yang biasa, tapi hiu jalan sirip ini tidak ada di tempat lain di seluruh dunia, hanya ada di Papua Barat. Ada lima spesies hiu jalan sirip di Papua Barat. Itu sudah menjadi objek wisata yang sangat luar biasa. Pari Raksasa di Raja Ampat, panjangnya 6,4 meter itu adalah yang terbesar di dunia. Ada juga 16 spesies lumba-lumba yang bisa didapatkan di Papua Barat. Satu hal lagi yang menarik adalah ikan puri, ikan kecil ini adalah dasar dari rantai makanan yang ada di laut Papua Barat ini, dan itu masih banyak sekali. Tapi sayangnya, ada begitu banyak sekali nelayan yang datang dari luar untuk menghabiskan ini. Barangkali ini satu hal yang perlu sekali dipikirkan dalam membuat regulasi di Papua Barat untuk menjamin keberadaan ikan puri ini. Kalau ikan puri tidak ada, maka Tenggiri juga akan tidak ada, Paus dan lain-lain akan tidak ada di Papua barat. Kita juga punya danau ubur-ubur yang luar biasa, tidak ada di tempat lain kecuali di Palau. Berdasarkan input dari 25 ahli international dan Indonesia, Papua ditunjuk sebagai prioritas nomor 1 untuk mengembangkan konservasi, karena Papua Barat memiliki habitat yang sangat luar biasa bagi biota laut, dan alasan lainnya adalah karena evolusi masih berjalan di kawasan ini. Evolusi kita berpikir terjadi jutaan tahun lalu, tapi di Papua Barat itu kita bisa temukan evolusi masih terjadi, dan bisa muncul spesies baru. Kalau kita berpikir tentang nilai sumber daya alam Papua, maka ada tiga hal yang paling penting sekali, pertama itu ketahanan pangan masyarakat lokal, itu penting yang luar biasa. Dia juga punya nilai budaya dan sekarang nilai wisata bahari sangat luar biasa. Nah untuk merealisasikan PK dari sisi laut, Papua Barat punya 20 kawasan konservasi laut (Perairan) yang luasnya 4,6 juta hektar dan itu sudah dibangun dalam 20 tahun terakhir. Patroli masyarakat dan aparat sudah berhasil menekan praktek pemboman ikan di hampir seluruh KKP. Jadi bisa dibilang ada kesuksesan. Jadi kalau ada kolaborasi Pemerintah dan masyarakat, itu bisa sukses. Hasil perikanan juga sudah meningkat. Kita lihat biomassa ikan di perairan raja ampat sudah meningkat dalam 20 tahun terakhir. Jadi masyarakat lokal sudah bisa tangkap ikan lebih daripada sebelumnya.Jadi orang berpikir konservasi adalah untuk melarang-melarang-melarang, sebenarnya tidak juga.Konservasi justru bisa sangat bermanfaat kepada masyarakat lokal. Jadi bicara soal Provinsi Pembangunan Berkelanjutan, itu untuk masyarakat lokal di Papua Barat, bukan untuk orang yang datang dari jauh. Dari perspketif pariwisata, konservasi sangat membantu. Jika sebelumnya Raja Ampat, sekarang sudah berkembang ke Teluk Cenderawasih, Kaimana dan beberapa tempat yang menarik para Divers untuk menikmati, baik Internasional maupun Indonesia. Di Tahun 2001 baru ada 1 resort milik Max Hammers dan1 liveaboard yang datang, ada 300 tamu yang tiba. Pada 2018 ada 12 resort,59 liveabroard,130 homestay dan hampir 30 ribu tamu yang datang dari 95 negara.Dan kita belum hitung nilai ekonominya secara keseluruhan. Tapi kalau lihat dari karcis jasa lingkungannya kepada tamu, itu lebih dari 2 juta dollar hingga 2018, sedangkan 2019 lebih tinggi lagi, walaupun saya belum punya angka yang terakhir itu. Prinsip dari PK adalah untuk mengakui dan memastikan hak masyarakat adat Papua untuk mengelola, menikmati dan memanfaatkan sumber daya alam Papua yang kaya demi masa depannya anak cucu Papua secara berkelanjutan sesuai dengan budaya lokal. Saya berpikir, kita harus mengerti dan mengakui bahwa ini satu konsep dan regulasi yang sangat maju, kalau kita bandingkan dengan tempat lainnya di dunia.Papua Barat bisa bangga dengan keberadaan Perdasus ini, dan saya harap itu bisa diselesaikan dengan cepat. Saya tinggal di New Zealand, itu negara yang tidak semaju seperti yang ada di Papua Barat, tapi cukup maju dalam hal regulasi. Mereka punya begitu banyak regulasi untuk menjamin hak masyarakat asli, yaitu orang Mauri. Di tahun terakhir ada satu peraturan atau produk hukum yang keluar yang menurut saya sangat menarik yaitu berdasarkan kepercayaan orang Mauri, bahwa sungai-sungai dan gunung justru punya hak yang sama seperti manusianya. Dia (Gunung dan sungai) sakral dan dia penting sekali. Dalam regulasinya itu masuk, jadi kalau ada yang merusak sungai dan gunung, akan digugat. Nah ini menarik sekali konsepnya.Itu sesuatu yang sudah diterapkan di New Zealand, dan ini mungkin yang bisa dipikirkan. Sekarang kita fokus pada Perdasus yang sudah hampir selesai, semoga kita sukses merealisasikan impian yang besar ini. Terima kasih! Ditulis oleh : Ab Yomo |
![]() |
Jangan Lagi Ada Pengembangan Komoditas Kelapa Sawit di Papua Barat
Manokwari(23/01/2020),- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, Prof.Dr. Charlie Heatubun,S.Hut.,M.Si mewakili Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Provinsi Papua Barat menyampaikan progress inisiatif Pembangunan Berkelanjutan di Papua Barat dalam kegiatan Talkshow Interaktif Pembangunan Berkelanjutan antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Mitra Pembangunan, di Manokwari, Kamis(23/01/2020). “Sudah teridentifikasi mitra yang membantu Pemerintah mengawal 14 butir termasuk juga LSM lokal yang secara detail dalam laporan lengkap ini, termasuk juga OPD di Papua Barat. Dari 14 butir itu, ada butir tentang tata ruang, dimana hampir sebagian besar mitra mendukung kami,” ucap Prof.Charlie. Sedangkan butir kesembilan dan keduabelas hanya satu atau dua mitra yang mendukung. Sehingga Prof.Charlie berharap perlu diatur secara baik lagi agar tidak terjadi tumpang tindih oleh mitra pembangunan dan pemerintah daerah, sehingga sumber daya bisa digunakan secara efektif dan efisien. (Butir kesembilan dari Deklarasi ICBE 2018 : Mendorong pembentukan lembaga independen untuk penyelesaian sengketa lingkungan sesuai amanat pasal 64 UU 21/2001, serta berkomitmen menjalankan fungsi pengawasan pengelolaan SDA berkelanjutan dan akses manfaat oleh masyarakat adat yang juga menjadi amanat dari UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah. Kedua Provinsi juga berkomitment mendorong adanya singkronisasi dan sinergi kebijakan pembangunan di Tanah Papua melalui upaya konsultasi aktif antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sebagaimana diamanatkan oleh Inpres 9/2017. Sedangkan butir keduabelas, yaitu berkomitmen untuk mendorong dan memfasilitasi percepatan peraturan gubernur terkait ketahanan pangan di Tanah Papua dengan pelibatan penuh pemerintah,DPR,MRP dan masyarakat adat.) Dari data informasi yang ada, kata Prof.Charlie, untuk 2019 dukungan pembangunan dari mitra cukup besar, detailnya sudah disampaikan kepada Gubernur Papua Barat. Dari mitra juga teridentifikasi ada beberapa hal yang saat ini akan menjadi prioritas, terutama dalam penyelesaian dokumen revisi tata ruang yang harus bisa segera diselesaikan. “Menurut logika, jika RTRW diselesaikan, maka aktivitas pembangunan akan menjadi lebih terkendali, lebih tepat sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan,” tandasnya. Profesor di Bidang Ilmu Botani Hutan ini berharap agar bencana di Wasior, Jayapura bahkan terakhir dengan banjir di Jakarta bisa jadi pelajaran. “Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal seperti itu ( di Papua Barat). Kalau terjadi banjir, longsor, nanti pemimpin daerah akan saling menyalahkan antara Kabupaten yang satu dengan Kabupaten yang lain. Ini menyangkut penataan ruang secara keseluruhan tidak bisa terpisah-pisahkan,” jelasnya. Kata Prof. Charlie, investasi hijau di Papua Barat juga menjadi prioritas. Karena dengan menentukan tujuan pembangunan berkelanjutan, tentunya dengan membatasi ekstraksi sumber daya alam. Mau tidak mau peningkatan ekonomi di papua Barat harus dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan. “Tentunya peta jalan dan satu grand desain untuk investasi hijau sudah disiapkan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bulan depan itu ada pertemuan tingkat tinggi di Sorong, kita mengharapkan itu akan membawa angin segar terutama untuk investasi hijau di Papua Barat. Gubernur telah memerintahkan untuk kita mempersiapkan itu semua.Sehingga dukungan mitra pembangunan ini sangat diharapkan untuk keberhasilan pertemuan di Sorong nanti,” tutur Prof.Charlie. Prof.Charlie juga mempresentasekan puluhan aksi dan rencana tindaklanjut yang akan difokuskan pada 2020. “Banyak hal yang akan dilakukan, bagaimana dukungan KLHS terhadap RTRW dan RPJM Papua Barat, demikian juga dengan regulasi turunan dari Perdasus pembangunan berkelanjutan, penguatan kapasitas kelembagaan maupun kapasitas individu baik di pemerintah maupun lembaga-lembaga yang ada termasuk lembaga adat menjadi prioritas untuk segera dilakukan,” ujarnya. Lanjutnya, demikian juga dengan pengembangan komoditas unggulan daerah non deforestasi yang bisa membawa peningkatan ekonomi dan juga kesejahteraan bagi masyarakat itu akan jadi perhatian bersama. Juga mereview ijin-ijin yang ada sehingga dari konsesi atau penggunaan lahan hutan yang tidak aktif lagi, itu bisa diserahkan kepada masyarakat adat dan dipergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi lingkungan konservasi sumber daya alam. Juga terkait transfer fiskal untuk penguatan fiskal di Papua Barat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan akan menjadi prioritas ke depan. “Tentunya sudah menjadi komitmen kita bahwa pengembangan komoditas kalau boleh jangan lagi ada pengembangan komoditas kelapa sawit.Tapi hendaknya komuditas-komoditas yang kita kategorikan komoditas non deforestasi dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,” tegasnya.*) Ditulis oleh : Ab Yomo
|
![]() |
Jadi Relawan Adalah Kesempatan Untuk Belajar
MANOKWARI(16/12/2019)- Pada Juni 2019, Bentara Papua membuka lowongan relawan kampung dan relawan petani muda. Relawan petani muda dibuka untuk pemuda se-Nusantara yang telah cukup mahir dalam pertanian organik, sedangkan relawan kampung ditujukan untuk pemuda-pemudi di wilayah Manokwari dan sekitarnya yang mau belajar di kampung terkait pertanian organik, pemetaan dan ekonomi skala kecil.
Pemuda asal Iluga Kabupaten Mamberamo Tengah Papua ini mengatakan bahwa dalam proses perkuliahannya ternyata tidak berjalan dengan mulus. Selain sibuk dengan organisasi Ikatan Mahasiswa Asal Mamberamo Tengah dan beberapa kali jatuh sakit, ia akhirnya terlambat setahun. “ Waktu Praktek Kerja Lapangan juga begitu, saya hampir gagal karena sakit, tapi akhirnya bisa melewati itu dan bisa selesai di Unipa,” tandasnya.
|
![]() |
69 Peta Terkumpul, Namun Banyak yang Perlu Diperbaiki
|
![]() |
Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text id2
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries id |
![]() |
Maluku
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Papua
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Papua Barat
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Advokasi Kebijakan dan Kesejahteraan Stategis
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text
Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text |
![]() |
Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text id2
Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text Lorem ipsum dolor sit amet is a simply dummy text id |
![]() |
Dukungan Komunikasi Stategis untuk Indonesia Timur
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Pembangunan Kapasitas dan Ketahanan Masyarakat
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Gerakan Laut Berkelanjutan
Menjadijembatan komunikasi antar pemangku kepentingan di Indonesia Timur dalam mewujudkan amanah |
![]() |
Bentara Rainforest Festival 2019
Perkumpulan Bentang Nusantara ( Bentara ) Papua telah menyelenggarakan Kemah Hutan Papua atau Bentara Rainforest Festival (BRF) 2019 yang dipusatkan di Kampung Solol, Distrik Salawati Barat Kabupaten Raja Ampat, 21-29 Oktober 2019. Kegiatan yang mengusung tema : “Hutan Nafas Hidup Kami” merupakan suatu inisiatif Perkumpulan Bentara Papua dalam membangun kesadaran kritis di kampung-kampung dampingan Bentara dalam pengelolaan sumberdaya alam yang adil dan berkelanjutan. |
![]() |
BENTARA RAINFOREST FESTIVAL
Bentara Rainforest Festival |
![]() |
Hutan Papua Barat Memenuhi Kriteria Dapatkan Pendanaan GCF
Manokwari – Hutan Primer Papua Barat yang sangat luas ini, dinyatakan memenuhi kriteria untuk mendapat dukungan pendanaan dari Green Climate Fund (GCF). Hal ini terungkap dalam lokakarya potensi pendanaan GCF di Provinsi Papua Barat, yang berlangsung di Manokwari,Rabu(19/6/2019).
Menurut Noor Syaifudin, Kepala Sub-bidang Pendanaan Perubahan Iklim, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuanga Republik Indonesia, dalam sambutan kegiatan Workshop Potensi Pendanaan Green Climate Fund (GCF) menyatakan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang telah membangun skema pembiayaan melalui GCF.
Hal ini untuk membantu beberapa Negara yang sudah berkembang seperti Indonesia untuk mencapai target pengurangan emisi dan menanggulangi dampak perubahan iklim melalui aksi daerah. Sangat besar aksi daerah untuk berkontribusi terhadap Perubahan Iklim sehingga inisiatif Inisiatif GCF untuk mendorong pemangku pemerintah melalui program Prioritas Pemerintah pusat dan daerah yang berdampak pada tujuan utama pendanaan itu, di SwissBel Hotel Manokwari, Rabu (19/6/2019) lalu.
Lanjut Noor, Untuk menjalankan Proyek Perubahan Iklim ini, GCF diawasi melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan RI yang berfungsi sebagai National Designated Authority (NDA) atau sebagai Sekretariat NDA. Tugas utama NDA adalah bagaimana memastikan Program skala besar yang dikembangkan dari pendanaan PBB melalui GCF dan harus sinkron pada prioritas serta target pemerintah pusat yang berhubungan dengan perubahan iklim.
Salah satu strategisnya adalah komitmen pemerintah indonesia dengan target penurunan Emisi tahun 2030 melalui Nationally Determined Contribution (NDC) dengan target skema pendanaan 29% adalah pendanaan dari Indonesia dan jika pendanaannya dari negara maju lainnya 41% berkontribusi dalam proyek mitigasi untuk perubahan iklim di Indonesia.
Sedangkan komitmen pemerintah Indonesia melalui proyek adaptasi perubahan iklim dituangkan dalam proyek sub sektor seperti Food Security and energy sovereignty, economi resiliance, life system resiliance, Ecosystem Resiliance, Special Territory ResiliaAnce, Supporting System, Cities, Coastal, and Small Islands.
Skema pendanaan dari GCF ini, Indonesia mempunyai list program iklim yang sesuai dengan prioritas rencana aksi nasional dan telah melalui studi pemetaan pendanaan iklim di Indonesia. Karena sebagian besar Program dirancang atau dilaksanakan di tingkat daerah, maka NDA perlu mempublikasikan secara luas informasi mengenai GCF kepada para pemangku kepentingan di daerah, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, universitas, Non-Governmental Organization, mitra pembangunan hingga kelompok masyarakat adat khusus di Papua Barat dan Maluku.
Dalam sambutan pembukaan kegiatan Potensi Pendanaan GCF, Gubernur Papua Barat yang diwakili Sekertaris Daerah (SEKDA) Nataniel D. Mandacan membacakan dalam teks tertulis bahwa, kegiatan GCF ini merupakan bagian dari komitmen dan tindak lanjut Deklarasi Manokwari melalui kegiatan International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy (ICBE) tahun 2018 lalu. Dan tidak terlepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kita dengan target 70% untuk melindungi ekosistem dan hutan tropis di Papua Barat.
Lanjut Mandacan, Penyebab utama dalam meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) adalah meningkatnya Deforestasi di Papua Barat sehingga adanya terobosan-terobosan baru yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengatasi GRK ini. Salah satunya Deklarasi Manokwari memiliki visi bersama Tanah Papua yaitu Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari dan Bermartabat yang berisi 14 item, Province of Conservation dan rendah karbon (Low Carbon). Komitmen Pemerintah Provinsi diturunkan pada level Kabupaten Kota yang sudah menjadi Kabupaten Konservasi, misalnya Tambrauw, Pegunungan Arfak, Raja Ampat dan tentu kabupaten lainnya.
Tanah Papua sudah diplot oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga Pemda mengambil komitmen dengan berbagai inisiatif positif untuk mengatasi permasalahan yang merugikan. Saat ini, aktivitas perusahaan di lapangan sedang berlangsung sehingga program pemerintah dan kebijakan lainnya seperti rendah karbon, Deklarasi Manokwari dan lainnya menjadi penting untuk perlu di maknai oleh semua pihak, kata Sekda Nataniel D. Mancana pada akhir sambutannya sekaligus membuka kegiatan Workshop Potensi Pendanaan GCF di Papua Barat.
Dalam kegiatan tersebut dihadiri pemangku pemerintah yang terdiri dari Kementerian Keuangan RI, Pemerintah Papua Barat, Pemerintah Maluku, pemerintah Kabupaten dan Kota, Akademisi, LSM dan Mitra Pembangunan lain.
Tujuan kegiatan workshop yang dilaksanakan di Swiss Belhotel, Manokwari, Papua Barat, Rabu-Kamis, 19-20 Juni 2019 ini, para pemangku kepentingan di daerah, seperti Provinsi Papua Barat dan Provinsi Maluku dapat mengakses sumber pendanaan alternatif untuk membiayai proyek prioritas atau program pembangunan rendah emisi.
Dessi Yuliana menyatakan dalam pemaparan materi Green Climate Fund, GCF telah menyetujui bantuan dana sebesar US$100 juta untuk proyek Indonesia Geothermal Resource Risk Mitigation Projec (GREM) dengan total investasi sebesar US$410 juta yang di jalankan PT.Sarana Multi Infrastruktur (persero) sebagai lembaga yang terakreditasi. Selain itu, dana sebesar US$0,8 juta juga akan disalurkan GCF bagi proyek persiapan fasilitas moda transportasi Bus Rapid Transit di Semarang senilai US$1.25 juta.
Green Invesmen Specialist (GGGI), ditunjuk oleh BKF sebagai mitra penyedia (delivery partner) dalam implementasi Readiness And Preparatory Support Program (RPSP) GCF di Indonesia. “GGGI menyediakan program dukungan persiapan dan kesiapan bagi BKF dan lembaga-lembaga lainnya dalam meningkatkan kapasitas sehingga mampu mengakses pendanaan GCF, tujuan kami membantu meningkatkan kesiapan BKF dalam menjalankan peran sebagai MDA,” jelas Dessi
Kegiatan Workshop ini dibagi tiga isu penting yang terdiri dari Agroforestry, Food And Security (AFOLU), Energi, Adaptasi dan Mitigasi. Kemudian dilakukan diskusi dan memapaprkan hasil diskusinya dan rumusan ini menjadi kebijakan pemerintah Provinsi Papua Barat dan Provinsi Maluku untuk mengatasi Perubahan Iklim ini.
Perwakilan Bentara Papua juga mempertegas, harus ada komitmen bersama dan semua pihak memaknai kebijakan Pemerintah untuk menjawab kesenjangan-kesenjangan yang saat ini terjadi. Dalam rumusan tersebut juga harus ada dampak bagi masyarakat yang konsisten menjaga wilayah adat dan hutan mereka untuk kepentingan perubahan iklim tersebut.
Hasil rumusan ini, sambuug Dessi, akan menjadi program prioritas Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Maluku untuk penyusunan Proposal atau konsep Note kepada kementerian keuangan dan GCF.*)
|
![]() |
RELAWAN PETANI MUDA & RELAWAN KAMPUNG
26 Juni 2019
|
![]() |
Program OPD Papua Barat diharapkan dapat mengurangi dampak Perubahan Iklim
“ Dari Workshop dan Pelatihan Penandaan Anggaran Hijau (Green Budget Planning Tagging)” Manokwari,- Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( Bappeda) Provinsi Papua Barat, berpesan kepada para peserta pelatihan Penandaan Anggaran Hijau (Green Budget Planning Tagging) dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), agar dapat memastikan program dan kegiatannya mampu mewujudkan Papua Barat yang berkelanjutan untuk kesejahteraan Indonesia. “ Semoga ilmu yang diperoleh dalam pelatihan ini dapat memudahkan OPD untuk menyusun program kegiatan yang bisa mengurangi tingkat kerentanan Indonesia terhadap dampak perubahan iklim,” kata Kepala Bappeda Provinsi Papua Barat, Dance Sangkek,SH,MM yang diwakili Kepala Bidang Pembangunan dan Masyarakat, Nikolas Saiduy,SH,MM, pada penutupan Workshop dan Pelatihan Penandaan Anggaran Hijau (Green Budget Planning Tagging) di Manokwari,Kamis(16/05/2019). Dance juga mengatakan, dengan adanya penandaan anggaran hijau diharapkan alokasi anggaran, program-program dan kegiatan yang direncanakan dapat tepat sasaran, lebih efektif dan efisien dalam upaya pencapaian indikator-indikator kinerja yang mendukung konteks tujuan pembangunan berkelanjutan. Dijelaskan, Lokakarya Panandaan Anggaran Hijau menuju perwujudan transfer anggaran provinsi berbasis ekologi ini memiliki arti penting dalam upaya mendorong sinergitas kebijakan pembangunan di Provinsi Papua Barat maupun dengan kebijakan pembangunan nasional, terutama sejak dicanangkannya Provinsi Papua Barat sebagai Provinsi Berkelanjutan yang mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan alam dalam seluruh proses pembangunannya. Workhop dan Pelatihan Panandaan Anggaran Hijau ini dibimbing oleh Budhi Setiawan dari Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang difasilitasi oleh Bappeda Papua Barat, WWF Indonesia Program Papua dan The Asia Fondation. Perwakilan Bentara Papua bersama sejumlah CSO Lokal di Manokwari selama tiga hari (14-16 Mei 2019), mengikuti Workshop Penandaan Anggaran Hijau (Green Budget Planning Tagging) mendampingi sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Provinsi Papua Barat. Sekadar diketahui, bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan telah menyusun Strategi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Hijau. Strategi ini menggunakan kebijakan dan instrumen ekonomi paling efektif yang perlu diterapkan, melalui skenario yang menunjukkan tingkat sumber daya yang perlu disediakan untuk investasi pembangunan hijau dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kerentanan Indonesia terhadap dampak perubahan iklim dan resiko-resiko kerusakan lingkungan serta meminimalkan kerugian dan kerusakan terhadap sumber daya alam akibat pembangunan pertumbuhan ekonomi. Selaras dengan kerangka kebijakan nasional tersebut, WWF secara aktif mendorong pelaksanaan perencanaan dan penganggaran hijau dengan melakukan pengembangan alat analisa yang disebut dengan penandaan anggaran hijau atau “Green Budget tagging”. Alat ini, merupakan metode untuk melihat seberapa besar alokasi anggaran publik yang direncanakan dapat secara efektif dan efisien digunakan ntuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. WWF Indonesia melakukan peningkatan kapasitas pemerintah daerah di beberapa Propinsi dan Kabupaten prioritas diantaranya: Kabupaten Merauke (Propinsi Papua), Propinsi Kalimantan Barat meliputi, Kabupaten Melawi, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Mahakam Hulu Kabupaten Wakatobi (Propinsi Sulawesi Tenggara) dan Kabupaten Seram Timur dengan melakukan pelatihan dan workshop Penandaan Anggaran Hijau.(ab)
|
![]() |
Cita-cita Saya Menjadi Petani
Ketika kita menanyakan kepada seorang anak kecil tentang cita-citanya setelah dewasa nanti,beberapa jawaban yang dominan diucapkan anak-anak itu biasanya mengarah pada profesi dokter, pilot, polisi dan tentara. Jarang kita mendengar kata petani diucapkan anak-anak sebagai profesi yang akan menjadi cita-citanya dikemudian hari. |
![]() |
Presiden RI Terpilih Jangan Jadikan Perhutanan Sosial sebagai Aksesoris Pembangunan
Dahniar : Presiden harus jelaskan posisi PS dalam pembangunan Indonesia Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia, melalui Presiden dan Kementerian terkait harus menjelaskan posisi Perhutanan Sosial(PS) dalam pembangunan Indonesia. Apakah PS hanya sebatas aksesoris dalam pembangunan Indonesia atau juga hanya sebagai penyedap rasa dalam target NDC ( Nationally Determined Contribution), untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% pada tahun 2030. “Kalau PS diletakkan diposisi sebenarnya, jawabannya bukan di KLHK, tapi ada di Presiden RI,” ucap Dahniar Andriani dari Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum berbasis Masyarakat dan Ekologis ( Huma ), pada Pertemuan Strategis Pemangku Kepentingan: Memperkuat Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Mendukung Pencapaian Target NDC Indonesia, di Hotel Century Park Jakarta, Selasa(23/4/2019) lalu. Kata Dahniar, kalau hanya sebatas asesoris supaya terlihat Negara memperhatikan rakyat di sekitar hutan, itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Model banyak dibuat, tapi hanya sebatas model, sementara implementasi di lapangan tidak serius dikerjakan?Banyak PR(Pekerjaan Rumah) berat harus dijawab Pemerintah, dan tidak bisa diletakkan hanya pada KLHK. Dahniar menjelaskan, banyak persoalan tenurial yang tidak selesai-selesai, karena aturan perundang-undangan yang tumpang tindih, bahkan Pemerintah masih membuka keran para perusak lingkungan. TORA(Tanah Objek Reforma Agraria) juga tidak menjawab, karena yang diusulkan dalam TORA bukan yang berkonflik, karena sudah clear dan clean. “Kita jungkir balik juga tidak akan menyelesaikan persoalan di tingkat tapak, kalau tumpang tindih aturan belum dibereskan Pemerintah. Contoh bicara tentang hukum masyarakat adat,lihat ada berapa instrument perundangan yang ada di Negara ini?,” Tanya Dahniar. Sehingga Dahniar berharap Presiden RI terpilih nanti bisa lebih serius untuk melihat persoalan ini. Kalau ingin PS dijalankan dengan baik dan memberikan dampak yang besar bagi pencapaian NDC 2030, mari seriusi. Jangan Cuma jadikan PS sebagai aksesoris.(ab)
|
![]() |
Ada Gap Besar antara Target NDC Indonesia dan Supporting Dana
Wahyu : Ini masalah besar bagi negeri ini. Sayangnya orang Bappenas sudah pergi, padahal salah satu kuncinya ada di situ. |
![]() |
Perhutanan Sosial Merupakan Salah Satu Penentu Target NDC
Jakarta- Program Perhutanan Sosial dinilai sebagai salah satu program kongkrit Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan target NDC ( Nationally Determined Contribution), untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% pada tahun 2030. Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Dr.Ir. Bambang Supriyanto,M.Sc, saat tampil sebagai pembicara pada Pertemuan Strategis Pemangku Kepentingan: Memperkuat Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Mendukung Pencapaian Target NDC Indonesia, di Hotel Century Park Jakarta, Selasa(23/4/2019). “ Ada lima sector yang menentukan untuk mencapai target NDC itu, yakni Land Use Land Use Change and Forestry (LULUCF), Energy (Include transportation), Waste, Industrian Processes and Product Use(IPPU) and Agriculture,” ujarnya dalam pertemuan yang juga diikuti perwakilan Bentara Papua. Dari lima sector itu, LULUCF menjadi sector yang paling besar kontribusinya, yaitu sebesar 17,2 % dari total 29% target yang ditentukan. Nah, berbicara tentang LULUCF, instrumennya sudah pasti REDD+.”Kenapa ada plusnya? Karena di situ ada social dan ekonominya, sehingga cocok dengan Perhutanan Sosial,” tandasnya. Berbicara tentang REDD Plus,lanjutnya, itu meliputi Pengurangan emisi dari deforestasi, pengurangan emisi dari degradasi hutan, konservasi stok karbon hutan, managemen hutan yang berkelanjutan dan peningkatan stok karbon hutan. “Nah semua itu(unsur-unsur yang masuk dalam REDD Plus), dapat diimplementasikan dalam 5 Skema Perhutanan Sosial ( Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan) yang memberikan hak kelola masyarakat,” ujar Bambang. Namun Bambang menyadari, semua skema itu tidak bisa berjalan dan dilakukan sendiri oleh KLHK, tapi diperlukan kerjasama lintas sector, terutama dalam mewujudkan implementasi Perhutanan Sosial yang diharapkan pada tingkat tapak. Bambang kemudian mencontohkan praktek Perhutanan Sosial yang dilakukan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Lestari, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Yang mana Desa yang terletak di daerah pegunungan di lereng gunung Semeru ini berhasil mengkolaborasikan usaha kayu sengon, peternakan sapi, pisang kirana, rumput gajah, talas dan lain-lain dalam satu siklus ekonomi, yang memberikan kesejahteraan bagi 367 anggotanya dalam kawasan hutan seluas 940 hektar itu. Menurut Bambang, disinilah pentingnya peran pendamping untuk memfasilitasi menghubungkan potensi yang dimiliki masyarakat dengan berbagai pihak. Sehingga potensi yang dimiliki rakyat itu dapat dikelolah dari hulu hingga hilirnya dengan baik dan lancer, serta yang terpenting bisa membuat warganya mandiri dan sejahtera. “ Rakyat pusing kalo diomongin soal karbon trade. Mending omongin soal beyond carbon, seperti yang dilakukan oleh warga Burno. Bisa lihat juga linknya di Youtube https://youtu.be/_Jlb6UWwVdU,” tandas Bambang dengan riang.(ab) |
![]() |
Pertemuan Strategis Memperkuat Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Target NDC Indonesia
Jakarta- Dalam rangka mengkatalisasi kolaborasi para pihak untuk mencapai target NDC Indonesia, Yayasan Madani Berkelanjutan menyelenggarakan Pertemuan Strategis Pemangku Kepentingan: Memperkuat Kontribusi Perhutanan Sosial untuk Mendukung Pencapaian Target NDC Indonesia, di Hotel Century Park Jakarta, Selasa(23/4/2019). |
![]() |
Sekolah Aipiri
SEKOLAH AIPIRI adalah sebutan singkat dan populer dari satu program pendidikan khusus untuk para pegiat (aktivis) muda, terutama yang bekerja di aras akar-rumput di beberapa komunitas-komunitas basis di wilayah perdesaan dan pedalaman Papua. Disebut ‘Sekolah Aipiri’ karena sebagian besar kegiatan belajarnya selama sebulan pertama (24 September - 21 Oktober 2018) dilaksanakan di Kampung Aipiri, Distrik Manokwari Timur, satu kampung kecil di pesisir utara Kepala Burung, di tepian Samudera Teduh (Pasifik), sekitar 20 km dari Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat. |
![]() |
Selain Sebagai Katub Pengaman, Kajian Ini Harus Bisa Mewujudkan Kedaulatan Lingkungan Hidup di Tanah Papua
Ini sambutan Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Erik Teguh Primiantoro,S.Hut,MES pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Daya Dukung Lingkungan Hidup Papua di Ekoregion Papua Dalam Rangka Kebijakan Pengaman Pembangunan Papua… |
![]() |
Empat Belas Tahun Berperang Melawan Sampah
Pada awal tahun 2019, kita di Papua Barat dikejutkan dengan pengumuman KLHK bahwa Kota Sorong masuk dalam daftar kota terkotor untuk kategori kota sedang dan Waisai masuk dalam kota terkotor untuk kategori kota kecil. Sungguh ironis mengingat pada Oktober 2018 Provinsi Papua Barat baru saja mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Berkelanjutan, yang tentu saja bukan semata-mata soal menjaga hutan dan melindungi keanekaragaman hayati di Tanah Papua. Bagi Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Raja Ampat sendiri, gelar tersebut seolah mencederai nama baik kabupaten yang telah dikenal sebagai destinasi wisata International karena keindahan alam dan wisata baharinya. |
![]() |
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Gelar FGD Tentang Kajian Daya Dukung Lingkungan Hidup Papua
Jakarta,- Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Kajian Daya Dukung Lingkungan Hidup Papua Dalam Rangka Kebijakan Pengaman Pembangunan Papua, di Hotel Century Park Kompleks Senayan Jakarta, Rabu(20/2/2019). |
![]() |
Malam Terakhir di Kampung Sira dan Manggroholo (9/Selesai)
Teminabuan,- Pada malam Kamis(15/11), Elna melakukan pertemuan dengan para pemuda di Kampung Sira dan Manggroholo. Ada sekitar 20 pemuda dan beberapa perempuan yang hadir. Ini merupakan malam terakhir Elna berada di kampung ini, setelah 4 hari berkunjung dan melihat secara lansung aktivitas tradisional masyarakat setempat. |
![]() |
Hari Terakhir di Dusun Kelihi (8)
Teminabuan,- Maikel Kladit menyampaikan rencana perjalanan hari kedua di dusun Kelihi, Rabu(14/11). Rencana perjalanan hari kedua itu, kata Maikel, diantaranya melihat cara pemasangan jerat babi dan burung, melihat potensi damar dan potensi hutan lainnya dan terakhir pada malam hari kembali melihat Kangguru Papua ( Lao-Lao). |
![]() |
Hari Pertama Mencari Lao-Lao (7)
|
![]() |
LPHD Sira dan Manggroholo Mantapkan Visi dan Misi Serta Rencana Kerja 10 Tahun
Bentara News,- Pengurus dan anggota Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) dan Koperasi Kna Mandiri, harus punya rasa memiliki terhadap organisasi, sehingga visi dan misi yang dicita-citakan bersama bisa tercapai. Demikian kesimpulan dan harapan bersama peserta pelatihan hari kedua penguatan kapasitas LPHD di Kampung Sira dan Manggroholo, Rabu(21/11/2018). |
![]() |
Bentara Papua Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas di Kampung Sira
Bentara News,- Guna meningkatkan keterampilan dan kapasitas pengurus Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Sira dan Manggroholo, Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan, maka Perkumpulan Bentara Papua bersama Greenpeace Indonesia menggelar pelatihan penguatan kapasitas di Koperasi Kna Mandiri Kampung Sira, Selasa(20/11/2018). |
![]() |
Hibah Inovasi Jaga Hutan Papua
Teknis Lomba Hibah Inovasi Jaga Hutan Tingkat Perguruan Tinggi
Narahubung:
081240178570 - Naomi
08114864692 - Kantor Bentara Papua |
![]() |
PaCE INVOLVEMENT (Indonesian Volunteers for Social Movement)
APA ITU PaCE INVOLVEMENT (Indonesian Volunteers for Social Movement) merupakan sebuah gerakan sosial bagi para pemuda di Tanah Papua untuk mengambil peran di sektor riil kehidupan sosial masyarakat dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi, ketahanan pangan dan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan. PaCE Involvement dirancang jangka panjang dimana hasil dari kegiatan ini diharapan para lulusan pendidikan PaCE INVOLVEMENT akan terus mendedikasikan dirinya untuk kerja-kerja sosial di tanah Papua yang adil dan berkelanjutan.
TATA CARA PENDAFTARAN PESERTA PENDIDIKAN
|
![]() |
Kemah Hutan Papua | Papua Forest Camp
Hutan tropis Indonesia mengandung keanekaragamanhayati terkaya dan terlangka di dunia, serta merupakan sumber kebanggaan bangsa. Meskipun luasan hutan tropis hanya mencakup 7% dari luas daratan, namun ia menyimpan separuh kehidupan yang ada di bumi. Hutan Indonesia juga merupakan penyimpan karbon yang sangat penting bagi keseimbangan iklim dunia, dimana kita dianugerahi tanggung jawab yang besar untuk melestarikannya demi kelangsungan hidup umat manusia. |
![]() |
Kemah dan Ekspedisi Hutan Papua 2016
Hutan tropis Indonesia mengandung keanekaragamanhayati terkaya dan terlangka di dunia, serta merupakan sumber kebanggaan bangsa. Meskipun luasan hutan tropis hanya mencakup 7% dari luas daratan, namun ia menyimpan separuh kehidupan yang ada di bumi.
|
![]() |
Pelatihan Menulis
Salah satu kelemahan aktivis di Manokwari adalah bagaimana menginformasikan setiap kejadian yang terjadi di tanah Papua dalam bentuk tulisan. Hal sering membuat aktivis di Manokwari tertinggal dari aktivis yang ada di luar Papua. Kita memiliki informasi yang sangat kaya akan tetapi kebanyakan digunakan oleh orang-orang luar sebagai bahan tulisan mereka sehingga kita sebagai sumber berita tidak dikenal di luar Papua. Oleh sebab itu untuk lebih memasyarakatkan budaya menulis, Perkumpulan Bentara Papua dan Perkumpulan ingin menghapus Stigma yang banyak kita dengar tentang menulis yaitu menulis itu susah, saya tidak bisa menjadi Menulis itu mudah, siapa saja bisa. Dengan demikian diharapkan lahir tulisan-tulisan dari para aktivis di Manokwari yang menyapa pembacanya langsung dari sumber beritanya di tanah Papua melalui bergagai macam media baik koran, majalah, web, blog dan juga media sosial. |
![]() |
Pelatihan Analisis Sosial
Analisis Sosial adalah istilah yang tidak asing bagi pegiat sosial masyarakat sebagai kemampuan dasar yang harus dimiliki untuk menjalani kegiatan-kegiatannya. Sedemikian populernya istilah ini sehingga seringkali terjadi pengurangan makna menjadi perangkat prasyarat suatu proyek atau program yang kemudian digunakan secara mekanis belaka. Akibatnya hasil analisis tidak betul-betul menangkap realitas masyarakat, dan akhirnya program atau proyek yang dijalankan tidak mampu menjawab masalah-masalah nyata dalam masyarakat. Oleh sebab itu Bentara Papua bekerjasama dengan The Samdhana Institute menginisiasi Pelatihan “Analisis Sosial dan Penghidupan Berkelanjutan” untuk menjembatani generasi muda yang akan berkecimpung dalam dunia sosial kemasyarakatan sehingga memiliki bekal dalam menganalisis permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi. |
![]() |
Kemah Kepemimpinan Sosial dan Lingkungan
Pembangunan yang berkelanjutan akan berjalan harmonis jika perencanaannya melibatkan semua pihak, sementara masyarakat yang kuat dalam suatu wilayah akan menjadikan suatu pembangunan yang berarti meski sekecil apapun itu. Permasalahan demi permasalahan sering terjadi seiring dengan berjalannya pembangunan, namun semua itu dapat berjalan harmonis jika konsep pelestarian lingkungan/konservasi sejalan dengan pembangunan atau saat ini dikenal sebagai pembangunan berkelanjutan (sustainable development) serta keterlibatan segala pihak dalam merencanakan pembangunan, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan (agent of change) yang memiliki power. |
![]() |
Masyarakat Knasaimos Ajukan Pengakuan Wilayah Adat ke Bupati Sorong Selatan
Masyarakat Knasaimos Ajukan Pengakuan Wilayah Adat ke Bupati Sorong Selatan Masyarakat adat Knasaimos hari ini mengajukan pengakuan masyarakat adat kepada Panitia Masyarakat Hukum Adat Sorong Selatan. Mengenakan pakaian adat, mereka membahas Dance Nauw, Sekretaris Daerah Sorong Selatan yang juga menjabat Ketua Panitia MHA, di rumah dinasnya. Turut dalam rombongan ini perwakilan marga-marga yang ada di Knasaimos, pengurus Dewan Persekutuan Masyarakat Adat (DPMA) Knasaimos, serta perwakilan Bentara Papua dan Greenpeace Indonesia. “Kami ingin wilayah adat Knasaimos diakui secara hukum. Kami sudah lama berjuang mempertahankan wilayah adat kami dari kebijakan pemerintah yang tidak melibatkan kami, mulai dari transmigrasi, penebangan kayu, hingga sawit. Hari ini kami datang dengan harapan wilayah adat kami diakui secara hukum oleh pemerintah,” kata Fredrik Sagisolo, Ketua DPMA Knasaimos. Kabupaten Sorong Selatan sebelumnya menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pengakuan dan Pelindungan dan Penghormatan Masyarakat Hukum Adat. Perda ini membuka peluang untuk pengakuan kedudukan masyarakat adat di Sorong Selatan serta wilayah adat mereka. Mekanismenya, masyarakat adat di Sorong Selatan mengajukan permohonan tertulis kepada bupati Sorong Selatan melalui Panitia Masyarakat Hukum Adat. Pada bulan Juli lalu, pemerintah Sorong Selatan juga telah membentuk Panitia Masyarakat Hukum Adat yang bertugas melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap pengajuan pengakuan masyarakat adat. Dalam permohonan pengakuannya kepada Panitia MHA, masyarakat adat Knasaimos membawa sejumlah dokumen, seperti hasil pemetaan partisipatif wilayah adat Knasaimos, dokumen lembaga DPMA Knasaimos, dan data sosial yang sesuai diatur dalam Perda Nomor 3 Tahun 2023. “Kami berharap pemerintah daerah benar-benar merealisasikan peraturan daerah yang ada tentang pengakuan dan pelindungan masyarakat adat ini, dengan segera mengesahkan wilayah adat Knasaimos. Selain Perda Nomor 3 Tahun 2023, pemerintah Papua Barat sebelumnya juga telah menerbitkan Perdasus Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pedoman, Pengakuan, Pelindungan, Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat dan Wilayah Adat,” kata Syafril, perwakilan dari Bentara Papua. Masyarakat adat Knasaimos–yang Merujuk singkatan nama subsuku di bawah suku Tehit–meliputi 52 marga, dengan wilayah adat seluas 97.441,55 hektare. Mereka telah melakukan pemetaan partisipatif sejak tahun 2009, sebagai bagian dari upaya mempertahankan hutan adat dari perluasan perkebunan sawit dan bubur kertas. Pada tahun 2014, masyarakat adat Knasaimos mendapatkan surat keputusan penetapan hutan desa dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, disusul hak pengelolaan hutan desa tiga tahun kemudian. “Masyarakat adat Knasaimos dan masyarakat adat lain di berbagai tempat sudah membuktikan bagaimana mereka dapat menjaga hutan dan keanekaragaman hayati. Kontribusi masyarakat adat sangat besar dalam menahan laju kenaikan suhu bumi di tengah krisis iklim saat ini. Pemerintah Indonesia seharusnya mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat adat dengan mengesahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat,” kata Amos Sumbung, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia. Kontak Media:Amos Sumbung, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, +62 811-486-327 Samuel Moifilit, Tim Komunikasi Greenpeace Indonesia, +62 853-3831-4090 Bentara Papua, +62 811-4864-692 |