Bekerja dengan Kami
PUBLIKASI
Refleksi dan dokumentasi tentang lingkungan, masyarakat adat, dan keberlanjutan, kerja-kerja Bentara Papua di Tanah Papua.
Sasi Laut Nusmapi: Ketika Kearifan Lokal Papua Menjadi Aksi Iklim
06 January 2026 - oleh La Ode Muh Zidane Fajar

Foto ini saya ambil pada momen pembukaan kembali sasi laut di Pulau Nusmapi, Manokwari. Bagi sebagian orang, gambar ini mungkin hanya memperlihatkan sekelompok warga yang berdiri di atas hamparan karang saat laut surut, dengan seorang pemuka gereja yang memimpin doa. Namun bagi saya, foto ini menyimpan cerita yang jauh lebih dalam tentang hubungan manusia dengan alam, tentang kesabaran, kepercayaan, dan tentang aksi iklim yang lahir dari kearifan lokal Papua.

Pulau Nusmapi adalah sebuah pulau kecil di Teluk Doreri, Manokwari. Meski ukurannya tidak besar, laut di sekelilingnya merupakan pusat kehidupan masyarakat. Bagi warga Nusmapi, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan halaman depan rumah, ruang belajar, dan tempat menjaga relasi dengan alam. Dari laut, mereka memperoleh ikan, kerang, teripang, dan berbagai sumber penghidupan lainnya.

Namun seperti banyak wilayah pesisir di Papua, Nusmapi tidak luput dari tekanan ekologis. Perubahan iklim, meningkatnya aktivitas manusia, serta praktik eksploitasi yang tidak terkendali perlahan memengaruhi keseimbangan laut. Perubahan ini sering kali tidak datang secara dramatis, melainkan melalui tanda-tanda kecil: hasil tangkapan yang menurun, ukuran ikan yang semakin kecil, atau waktu melaut yang kian tidak menentu.

Dalam konteks inilah masyarakat Nusmapi membaca tanda-tanda alam dengan caranya sendiri. Sasi kemudian hadir bukan hanya sebagai tradisi leluhur, tetapi sebagai strategi bertahan hidup dan bentuk adaptasi lokal terhadap perubahan lingkungan yang sedang berlangsung.

Sasi yang terekam dalam foto ini bukanlah praktik yang terjadi secara spontan. Penutupan sasi dilakukan pada April 2023 dan baru dibuka kembali pada Mei 2024. Selama lebih dari satu tahun, masyarakat sepakat untuk tidak mengambil hasil laut tertentu di wilayah yang disasi. Tidak ada pagar, tidak ada kamera pengawas, dan tidak ada patroli bersenjata. Yang menjaga sasi adalah kesepakatan bersama, nilai adat, serta rasa tanggung jawab kolektif yang hidup di tengah masyarakat.

Momen ini menjadi semakin bermakna karena sasi di Nusmapi digerakkan oleh komunitas orang muda Manokwari yang dikenal sebagai Eco Defender Manokwari, bekerja sama dengan PHMJ Gereja Bahtera Utrecht Nusmapi. Inisiatif ini menyampaikan pesan yang kuat bahwa aksi iklim tidak selalu harus lahir dari kebijakan besar atau teknologi canggih. Di Nusmapi, aksi iklim justru tumbuh dari kepedulian orang muda yang memilih bertindak di ruang hidupnya sendiri.

Dalam foto tersebut, terlihat anak-anak, orang dewasa, perempuan, dan laki-laki berdiri sejajar di atas karang yang terpapar surut. Tidak ada jarak antara yang memimpin dan yang dipimpin. Semua berdiri setara, menghadap laut yang sama. Laut seolah menjadi saksi dari janji yang pernah dibuat bersama dan kini ditepati bersama pula.

Bagi saya, sasi adalah bentuk aksi iklim yang sangat kontekstual dengan Papua. Dengan menutup wilayah laut untuk sementara waktu, ekosistem diberi kesempatan untuk pulih secara alami. Terumbu karang yang rapuh dapat berkembang tanpa gangguan, dan biota laut memiliki waktu untuk tumbuh dan bereproduksi. Dalam situasi krisis iklim dan tekanan terhadap sumber daya laut, sasi menjadi praktik adaptasi yang relevan dan efektif.

Aksi iklim sering dibicarakan dalam bahasa emisi karbon, target global, atau konferensi internasional. Namun di Nusmapi, aksi iklim hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna: memberi waktu kepada alam. Foto ini merekam momen ketika manusia memilih untuk menahan diri tidak mengambil sebanyak mungkin, tetapi berhenti sejenak demi keberlanjutan.

Saya melihat momen ini sebagai pertemuan antara iman, adat, dan kepedulian lingkungan. Doa yang dipimpin oleh gereja bukan sekadar ritual spiritual, melainkan komitmen moral untuk menjaga ciptaan, menghindari keserakahan, dan memikirkan generasi yang akan datang. Di Papua, gereja memiliki peran sosial yang kuat, dan kolaborasi ini menunjukkan bahwa nilai keimanan dapat berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan.

Anak-anak yang berdiri di barisan depan dalam foto ini menjadi simbol paling jujur dari alasan mengapa sasi dilakukan. Mereka mungkin belum memahami istilah “perubahan iklim”, tetapi merekalah yang akan merasakan dampaknya secara langsung. Dengan melibatkan mereka sejak dini, sasi menjadi media pewarisan nilai dan cara pandang terhadap alam.

Foto ini juga memperlihatkan bahwa orang muda Papua tidak diam. Mereka bukan sekadar penonton krisis iklim global, tetapi penggerak di tingkat lokal. Belajar dari leluhur, sekaligus membaca konteks zaman, orang muda Nusmapi memahami bahwa laut bukan hanya sumber ekonomi hari ini, melainkan fondasi kehidupan esok hari.

Bagi saya, sasi di Nusmapi adalah bentuk perlawanan yang sunyi terhadap kerusakan lingkungan tidak perlu besar, tidak konfrontatif, tetapi konsisten. Ia mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus cepat atau besar, tetapi harus dijaga bersama dalam jangka panjang.

Ketika sasi dibuka kembali pada Mei 2024, pembukaan itu bukan berarti kebebasan untuk kembali mengambil tanpa batas. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa laut telah diberi waktu, dan kini manusia memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga keseimbangan.

Cerita dari Nusmapi ini menjadi pengingat bahwa masa depan laut Papua sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita buat hari ini, secara bersama-sama.

Publikasi Lainnya

Dapatkan Informasi dan Update Terbaru dari Kami

Rumah Bentara Papua
Jalan Asrama Jayapura, Manggoapi Dalam, Angkasa Mulyono-Amban Manokwari - Papua Barat Indonesia, 98314

Foto dan gambar ©Bentara Papua atau digunakan dengan izin.
© Bentara Papua. All Rights Reserved

Web Design by SOLV