| Bekerja dengan Kami | ![]() |
Meja Makan yang Kehilangan Jiwa
03 June 2026 - oleh Ewil M. Woloin
Di atas meja makan hari ini, percakapan tidak lagi sekadar tentang rasa, melainkan tentang gengsi. Ada sebuah paradoks yang menggelitik sekaligus menyedihkan: di tengah laju perkembangan nasional yang serba cepat ini, bahasa daerah dan pangan lokal justru kerap dianggap sebagai hambatan bagi kemajuan. Generasi hari ini seolah digiring untuk percaya bahwa untuk menjadi maju secara nasional, mereka harus menanggalkan apa yang tumbuh dari tanah leluhur mereka. Dahulu, kepulan asap dari sagu bakar, kehangatan semangkuk papeda yang kenyal, aroma khas keladi bakar, dan kelezatan sayur yang dimasak di dalam bambu adalah simbol daya tahan, berkat, dan identitas. Pangan-pangan ini bukan sekadar pengisi perut, melainkan perajut cerita dari generasi ke generasi. Zaman sagu bakar dan keladi adalah zaman di mana manusia selaras dengan alamnya. "Kalian ini anak super karena perkembangan akan datang, kalian otak lebih super, karena makan supermi, superco... makanan yang super sudah." Pernyataan dari masa lalu itu adalah bukti nyata bagaimana ilusi kemajuan mulai mengikis kebanggaan kita. Label "super" justru disematkan pada makanan instan pabrikan yang datang dari luar. Sementara itu, sagu, keladi, dan hasil alam yang telah menghidupi leluhur kita berabad-abad lamanya perlahan digeser, dianggap sebagai makanan biasa yang tidak membawa modernitas. Akibat doktrin-doktrin halus seperti itu, zaman sagu dan keladi kini tampak kian menjauh. Pangan lokal tidak lagi menjadi favorit di kalangan generasi muda. Bukan karena rasanya yang memudar, melainkan karena dinding tak kasat mata bernama rasa minder. Ada stigma keliru yang perlahan menyusup ke benak anak-anak muda hari ini: bahwa memakan keladi bakar atau sayur tradisional yang dimasak dengan bambu adalah simbol ketertinggalan. Sebaliknya, mengonsumsi makanan instan dan modern yang populer di kota-kota besar dianggap sebagai tiket menuju standar kemajuan. Ketakutan akan dianggap "tidak gaul" atau "tertinggal dari arus nasional" akhirnya berhasil menjajah isi piring mereka sendiri. Ketika bahasa daerah mulai jarang dituturkan karena dianggap membatasi pergaulan di tingkat nasional, dan ketika pangan lokal disingkirkan dari meja makan demi gaya hidup luar, kita sebenarnya sedang menghadapi krisis identitas yang nyata. Perkembangan nasional seharusnya mengangkat dan memperkuat ragam budaya serta pangan daerah sebagai pilar bangsa, bukan menyeragamkan isi piring dan cara kita berbicara menjadi satu warna yang monoton. Kita harus sadar bahwa "otak super" dan masa depan yang maju tidak lahir dari ketergantungan pada makanan instan kemasan, melainkan dari generasi yang cerdas dan berani menjaga kedaulatan pangan serta identitasnya. Jika generasi muda terus merasa minder dengan warisan kulinernya sendiri, maka di masa depan, papeda, sagu bakar, keladi bakar, dan sayur bambu hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah, sebuah kenangan usang dari zaman yang kalah bertarung melawan arus modernisasi.
|
Publikasi Lainnya
|